Bersyukur
8 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Monday, September 11, 2006 at Monday, September 11, 2006.
Seorang profesor yang menjadi rektor universitas terbaik di suatu negara berkunjung ke sebuah desa terpencil di pinggir pantai karena bosan dengan apa yang dialami olehnya belakangan hari ini. Ia merasa lelah.
Dahulu, ketika masih menjadi siswa SMU, ia ingin melanjutkan ke Fakultas Kedokteran di Perguruan Tinggi ternama. Setelah masuk kedalamnya, ia berusaha menjadi mahasiswa terbaik. Ia berhasil. Dengan perjuangan kuliahnya selama 6 tahun, ia lulus dari universitas itu dengan predikat lulusan terbaik. Berbagai “Bagian” pun berebut menawarkannya untuk melanjutkan program spesialisasi didalamnya. Ia memutuskan masuk ke bagian penyakit dalam, dengan harapan bisa menjadi dokter ahli penyakit dalam terbaik di negaranya. Lagi-lagi harapannya dikabulkan oleh Allah swt.
Setelah menjadi dokter spesialis penyakit dalam, pasiennya terus bertambah setiap harinya. Tak puas dengan pendidikannya, ia meneruskan program S3-nya di Perancis. Setelah kembali ke negaranya, ia dipromosikan untuk menjadi guru besar.
Tak lama menjadi guru besar, lagi-lagi ia naik jabatan menjadi rektor perguruan tinggi tersebut. Tak menjadi rektor, ia pun dipromosikan menjadi Menteri Kesehatan. 5 tahun sudah ia menjadi Menteri Kesehatan. Sebentar lagi pemerintahan pun berganti alih. Tak mungkin ia menjadi Presiden karena ilmu yang dimilikinya untuk mengatur suatu negara belumlah cukup. Menjadi menteri lagi, hal itu tidak sesuai dengan alur riwayat kehidupannya sejak dahulu.
Di desa pinggir pantai yang terpencil, jauh dari gemerlapnya kota yang semakin dipenuhi oleh plaza dan mall, profesor itu bertemu dengan nelayan yang sedang menghitung tangkapan ikannya.
Profesor : Dapat berapa hari ini?
Nelayan : Seperti biasa.
Profesor : Mau terus pulang setelah ini?
Nelayan : Ya, setelah ini saya berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama anak saya, dan minum kopi di beranda ditemani istri saya.
Rupanya nelayan tidak menyadari sedang berbicara dengan seorang menteri.
Profesor : Sudah berapa jam melaut?
Nelayan : Baru 1 jam. Tapi ini sudah cukup untuk keluarga saya.
Profesor : Mengapa tidak lebih lama lagi? Bukankah engkau akan mendapatkan ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa?
Si Profesor mengerutkan keningnya.
Profesor : Ya untuk dijual.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor : Beli perahu yang lebih besar
Nelayan : Untuk apa perahu yang lebih besar?
Profesor : Bukankah dengan perahu yang lebih besar kau akan dapat ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa ikan yang banyak?
Profesor : Jelas untuk dijual lagi.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor pun diam tak menjawab. Nelayan yang sudah selesai menghitung ikannya langsung menjawab tanpa menunggu jawaban dari si profesor.
Nelayan : Bukankan setelah itu saya akan kembali berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama istri saya, dan bermain bersama anak saya?
Bersyukur. Itulah pelajaran ringan yang sering terlupakan oleh kita. Semakin bertambahnya hari, seharusnya semakin banyak yang kita syukuri, karena semakin banyak anugerah yang Allah berikan. Saya sendiri bersyukur bisa dari lahir ke dunia setelah melawan jutaan sperma lain, lahir dengan normal, bisa menikmati udara bersih dengan bebas, mendapatkan kasih sayang orangtua, hingga bersyukur karena bisa diberikan kesempatan untuk kuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Sementara banyak orang diluar sana yang tidak dapat menghirup udara bersih dengan bebas hingga tidak mendapatkan kesempatan melanjutkan sekolah.
Hidup disini membuat siapapun dapat mempelajari banyak hal. Termasuk saya. Dari mulai yang paling kecil, seperti kerjasama antar anggota kelompok, sampai hal yang sakral, yaitu mempelajari indahnya ciptaan Allah swt. Meskipun saya tipe orang yang keras ketika menginginkan sesuatu, saya tidak pernah beranjak dari tujuan hidup utama saya.
Seperti pohon, sebenarnya kehidupan dimanapun merupakan banyak buah ranum yang terdapat pada pohon tersebut. Tinggal gimana kita menyikapi setiap musim berbuah. Kalau siap, buah yang sudah ranum tersebut akan kita petik dan kita nikmati. Namun, kalau belum siap, buah yang sudah ranum itu mungkin saja akan jatuh mengenai kepala kita. Demikian halnya ketika kita menyikapi sebuah masalah. Kalau sudah siap menghadapi berbagai macam cobaan, barulah boleh berjuang. Fokus terhadap apa yang diperjuangkan. Jangan sampai yang perjuangan itu menjadi cobaan.
Dahulu, ketika masih menjadi siswa SMU, ia ingin melanjutkan ke Fakultas Kedokteran di Perguruan Tinggi ternama. Setelah masuk kedalamnya, ia berusaha menjadi mahasiswa terbaik. Ia berhasil. Dengan perjuangan kuliahnya selama 6 tahun, ia lulus dari universitas itu dengan predikat lulusan terbaik. Berbagai “Bagian” pun berebut menawarkannya untuk melanjutkan program spesialisasi didalamnya. Ia memutuskan masuk ke bagian penyakit dalam, dengan harapan bisa menjadi dokter ahli penyakit dalam terbaik di negaranya. Lagi-lagi harapannya dikabulkan oleh Allah swt.
Setelah menjadi dokter spesialis penyakit dalam, pasiennya terus bertambah setiap harinya. Tak puas dengan pendidikannya, ia meneruskan program S3-nya di Perancis. Setelah kembali ke negaranya, ia dipromosikan untuk menjadi guru besar.
Tak lama menjadi guru besar, lagi-lagi ia naik jabatan menjadi rektor perguruan tinggi tersebut. Tak menjadi rektor, ia pun dipromosikan menjadi Menteri Kesehatan. 5 tahun sudah ia menjadi Menteri Kesehatan. Sebentar lagi pemerintahan pun berganti alih. Tak mungkin ia menjadi Presiden karena ilmu yang dimilikinya untuk mengatur suatu negara belumlah cukup. Menjadi menteri lagi, hal itu tidak sesuai dengan alur riwayat kehidupannya sejak dahulu.
Di desa pinggir pantai yang terpencil, jauh dari gemerlapnya kota yang semakin dipenuhi oleh plaza dan mall, profesor itu bertemu dengan nelayan yang sedang menghitung tangkapan ikannya.
Profesor : Dapat berapa hari ini?
Nelayan : Seperti biasa.
Profesor : Mau terus pulang setelah ini?
Nelayan : Ya, setelah ini saya berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama anak saya, dan minum kopi di beranda ditemani istri saya.
Rupanya nelayan tidak menyadari sedang berbicara dengan seorang menteri.
Profesor : Sudah berapa jam melaut?
Nelayan : Baru 1 jam. Tapi ini sudah cukup untuk keluarga saya.
Profesor : Mengapa tidak lebih lama lagi? Bukankah engkau akan mendapatkan ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa?
Si Profesor mengerutkan keningnya.
Profesor : Ya untuk dijual.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor : Beli perahu yang lebih besar
Nelayan : Untuk apa perahu yang lebih besar?
Profesor : Bukankah dengan perahu yang lebih besar kau akan dapat ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa ikan yang banyak?
Profesor : Jelas untuk dijual lagi.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor pun diam tak menjawab. Nelayan yang sudah selesai menghitung ikannya langsung menjawab tanpa menunggu jawaban dari si profesor.
Nelayan : Bukankan setelah itu saya akan kembali berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama istri saya, dan bermain bersama anak saya?
Bersyukur. Itulah pelajaran ringan yang sering terlupakan oleh kita. Semakin bertambahnya hari, seharusnya semakin banyak yang kita syukuri, karena semakin banyak anugerah yang Allah berikan. Saya sendiri bersyukur bisa dari lahir ke dunia setelah melawan jutaan sperma lain, lahir dengan normal, bisa menikmati udara bersih dengan bebas, mendapatkan kasih sayang orangtua, hingga bersyukur karena bisa diberikan kesempatan untuk kuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Sementara banyak orang diluar sana yang tidak dapat menghirup udara bersih dengan bebas hingga tidak mendapatkan kesempatan melanjutkan sekolah.
Hidup disini membuat siapapun dapat mempelajari banyak hal. Termasuk saya. Dari mulai yang paling kecil, seperti kerjasama antar anggota kelompok, sampai hal yang sakral, yaitu mempelajari indahnya ciptaan Allah swt. Meskipun saya tipe orang yang keras ketika menginginkan sesuatu, saya tidak pernah beranjak dari tujuan hidup utama saya.
Seperti pohon, sebenarnya kehidupan dimanapun merupakan banyak buah ranum yang terdapat pada pohon tersebut. Tinggal gimana kita menyikapi setiap musim berbuah. Kalau siap, buah yang sudah ranum tersebut akan kita petik dan kita nikmati. Namun, kalau belum siap, buah yang sudah ranum itu mungkin saja akan jatuh mengenai kepala kita. Demikian halnya ketika kita menyikapi sebuah masalah. Kalau sudah siap menghadapi berbagai macam cobaan, barulah boleh berjuang. Fokus terhadap apa yang diperjuangkan. Jangan sampai yang perjuangan itu menjadi cobaan.

nice story den..
ckckck,
satu kebiasaan zahra: nulis ckckck
:p
jangan lupa bersyukur yah mas :)
makasih sudah diingatkan, kak feha.. :D
yup. bener banget. bersyukur.................
=p
yup. bener banget. bersyukur.................
=p
repost dengan beberapa perubahan...
pernah ada di majalah Bobo yang lama banget. Tapi waktu itu ceritanya orang pintar yang ketemu anak kecil yang sedang bermain-main di pantai.
Ilustrasinya saat itu, si orang pintar berambut panjang dan berjubah panjang dan terlihat dari belakang.. sedikit mengingatkanku pada sebuah sosok yang 'konon' pernah berada di Galilea.
Pokoknya intinya si anak bermain-main dengan sesuatu yang sebenarnya kalau dibuat serius bisa menghasilkan uang. Diskusi berlanjut yang ujung-ujungnya kalau si Anak serius mengembangkan usahanya, ia bisa jadi orang kaya.
Di bagian terakhir, si anak bertanya, "apa yang bisa kulakukan setelah si kaya". Si pintar menjawab "Kamu bisa bermain-main sepuasnya". Lalu si anak menceletuk, "Ah, kenapa untuk bermain-main harus melalui proses sepanjang itu? Saat ini saya sudah bisa bermain-main". Dan si pintar pun tersadar.
Tapi gubahan ceritanya bagus. Ini ide original atau nyontek dari e-mail forward-an nih?
wah..kak narpati..
aku gak tau juga ya, lupa..
kebanyakan yang dibaca akhir2 ini..hehe..