Ayam Goreng Sabtu Sore di Victoria Park
3 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Friday, June 11, 2010 at 7:32 PM.
Saya baru saja nonton film "Minggu Pagi di Victoria Park" bersama dengan ibu saya. Film itu bercerita tentang kisah tentang TKI yang berkumpul di Victoria Park setiap hari Sabtu dan Minggu. Victoria Park terletak di dekat Kowloon Mosque dan sekitar 3 km dari Nathan Road. Pikiran saya langsung melayang pada kenangan saya dengan nasi, ayam goreng, sayur labu siam, beserta sambal terasi yang saya nikmati di Hongkong beberapa bulan lalu.
Ketika itu, sepulang sholat Ashar di hari Sabtu, saya bertemu dengan seorang warga Pakistan yang bekerja di Hongkong. Perut saya yang mulai berbunyi membuat saya kemudian bertanya tempat makan khas Indonesia yang terkenal di sekitar Kowloon ini. Sang Pakistan pun bercerita kalau di Victoria Park ada banyak TKI yang berkumpul dan diantara mereka ada yang jualan makanan khas Indonesia.
Semangat saya memuncak seketika membayangkan nasi ayam goreng khas Jawa ditambah sambal pedas. Sebagai muslim, dua minggu di Hongkong membuat saya selektif untuk memilih makanan yang sudah jelas halal. Akibatnya, pilihan saya hanya berkisar dengan makanan India dan Pakistan yang menurut saya kurang pas untuk lidah orang Indonesia.
Eh benar saja. Beberapa menit berjalan dari Kowloon Mosque, saya sudah bisa melihat ada segerombolan wanita berusia 20-40 tahun berwajah khas Indonesia.
Diantara mereka ada yang berkelompok duduk di pinggir Victoria Park yang asri seakan sedang mengadakan arisan ibu-ibu. Sebagian lagi duduk berjejer menjajakan jualannya diam-diam. Ya, harus diam-diam, karena ternyata banyak sweeping yang dilakukan oleh polisi Hongkong. Alhasil saya hanya bisa membawa makanan yang saya beli untuk dinikmati di hotel.
Dua puluh lima dollar yang saya keluarkan cukup pantas untuk seporsi nasi, 2 ayam goreng yang masih panas, sayur labu siam, dan sambal terasi tentunya. Sebanding dengan harga kangen atas masakan ibu saya yang lezat.
Selama transaksi pembelian, saya menyempatkan untuk mengobrol dengan beberapa TKI yang ternyata semuanya bekerja sebagai pembantu disana. Si penjual yang makanannya saya beli asalnya dari Wonosobo dan sudah 4 tahun bekerja sebagai TKI di Hongkong. Bekerja dari Senin sampai Jumat, seperti layaknya karyawan kantoran, TKI di Hongkong diberikan jatah libur di Sabtu dan Minggu. Waktu 2 hari inilah yang dimanfaatkan oleh mereka untuk berkumpul dengan teman-teman, dan sebagian memanfaatkan untuk berjualan makanan. "Lumayan mas, daripada ngerumpi enggak jelas jadinya gosip malah dosa, mendingan jualan makan gini, hasilnya lumayan," kata wanita yang saya taksir masih berumur 30-an tersebut.
Yang menarik, mereka mau mengungkapkan gaji yang mereka terima per bulannya. TKI di Hongkong menerima gaji sekitar 4000 dollar HK (sekitar Rp 4 juta). Ada pro kontra tentunya disini. Mereka hanya bercerita kalau uang yang mereka terima cukup lumayan karena uang makan dan tempat tinggal ditanggung oleh majikan. Walaupun yang saya baca di harian Kompas agak sedikit berbeda.
Terlepas dari keadaan underpaid tersebut, sebutan devisa negara untuk para TKI yang di film "Minggu Pagi di Victoria Park" membuat Lola Amaria nekat untuk pergi ke Hongkong. Mungkin saja dari usaha makanan di pinggir Victoria Park mereka bisa merambah ke usaha bisnis makanan besar di Hongkong?
Karena jujur, menurut saya sambal terasinya memang benar-benar dahsyat.
jadi ngileer, deennn..
jadi pengen
Yuk yuk kita ke hongkong lagi makan ayam gorengnya :D