Hamilton dan The Wall of Champion
2 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Sunday, June 13, 2010 at 1:14 AM.
Balapan Formula 1 yang minggu ini diadakan di Kanada menghasilkan Hamilton, seorang kebangsaan Inggris yang sempat diberikan penghargaan oleh Ratu Elizabeth, untuk mendapatkan pole position.
Adalah sebuah kebanggan bagi Hamilton dengan mobil Mercedes-nya, yang mampu mengungguli team Red Bull yang hampir selalu mendominasi balapan F1 belakangan ini.
McLaren Mercedes Team mengungkapkan kalau mereka mengepaskan bahan bakar sehingga hanya cukup sampai garis finish saja. Tak heran kalau setelah finish, mobil Hamilton pun mogok sehingga ia harus mendorong mobilnya sendiri sebelum akhirnya dijemput oleh panitia lomba.
Selain strategi team, ternyata ada satu titik yang bisa membuat Hamilton unggul cukup jauh dibanding dengan rekan setimnya, Jenson Button, yang ada di posisi ke-5.
Wall of Champion. Ini adalah julukan bagi sebuah tembok yang terletak tepat setelah chicane terakhir, atau belokan terakhir sebelum garis finish. Disini pembalap seolah diajak berjudi, dengan resiko akan menabrak dinding seperti kasus terakhir Kubica di 2007, atau mendapat ganjaran waktu yang lebih cepat 0.2-0.4 s.
Ingat bahwa ini balapan F1, bukan perjalanan mobil biasa dimana ibu saya sering bilang: "gak usah ngebut-ngebut, paling nanti sampainya beda 5 menit". Perbedaan 0.2-0.4 s inilah yang menjadikan seorang pembalap lebih unggul dibanding pembalap lainnya. Tentunya karena mesin yang digunakan relatif tidak jauh berbeda.
Wall of Champion ini mengingatkan kita pada prinsip investasi sederhana: "High Risk, High Return". Ini prinsip hidup yang sebenarnya mudah, tapi implementasinya sangat sulit dalam kehidupan sehari-hari. Kita cenderung untuk memilih sesuatu yang berada di dalam zona aman, dibanding dengan keluar dan mendapatkan gain yang lebih besar lagi. Padahal terkadang saya masih terngiang-ngiang kata-kata yang pernah diucapkan Mario Teguh:
"Zona yang sering kita anggap nyaman itu sebenarnya tidak ada. Yang ada hanya zona tidak nyaman yang tidak mau kita tinggalkan karena malas untuk berusaha lebih giat"Atau kata ibu saya.. "Banyak orang yang lebih pintar dari kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha lebih giat"
nice post
Dewasa banget seh lo dekkk...:)