Perubahan yang tidak bisa berubah
1 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Wednesday, October 27, 2010 at 10:02 PM.
Dan hari ini tepat aja handphone saya menjadi barang passive yang enggak bisa dipakai untuk Blackberry Messenger, terima email, nelpon, bahkan untuk kirim SMS sekalipun. Cuman fungsi terima SMS atau terima telpon yang bisa dipakai. Anehnya, Telkom sekali-kalinya mati dalam jangka waktu yang lama untuk pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir. Biasanya mati cuman maksimal 2 menit.
Otomatis, saya hanya bisa akses komputer desktop tua yang ada di meja kerja di kamar saya, karena beruntungnya bagi kamu, saya mengubah setting login laptop kantor saya menjadi domain login, alias login online, alias kalo mau login musti konek internet dulu.
Kamu? Iya, beruntung buat kamu. Karena bentar lagi kamu bakal ketemu tulisan saya di blog yang jadi obsolete ini. :)
Mohon maaf kalau dalam beberapa bulan ini blog ini jadi terlantar. Entah kenapa, entah bagaimana, saya juga enggak ngerti kenapa aktivitas sehari-hari saya bisa mencapai volume tiada akhir. Semoga tulisan ini bisa mengobati rasa rindu kamu.
-ttd, Pemilik Blog
Kemarin persis saya lewat jalan Rasuna Said-SMA 3 Jakarta-Sudirman untuk menghindari macetnya malam Selasa yang sudah beredar dimana-mana.
Walaupun sudah beberapa kali lewat SMA 3, tapi kali itu rasanya beda, karena jalur yang saya lewati persis dengan jalur 6 tahun yang lalu. Waktu tahun 2004 itu, setiap seminggu 2 kali saya harus ke SMA 3 Jakarta buat ikut karantina Olimpiade Sains Nasional Matematika bareng 12 orang lainnya.
Saya iseng-iseng lihat profil teman-teman setelah pulang. Beberapa temen dari SMAK 1 Penabur seperti Sanders, sekarang kerja di Apple Computer. Atau Ivan, yang kerja di Intel. Edwin, yang lanjut kuliahnya di NTU, masih enggak ketahuan gimana nasibnya. Gabriella, yang dulu saya pernah suka, sekarang masih kuliah di NTU.
Entah kenapa, saya kok jadi keingetan sama diri saya 6 tahun yang lalu itu ya. Waktu itu saya sangat eager sekali dengan kemauan untuk membuat perusahaan software yang bisa menyaingi Microsoft, atau Oracle. Sampai-sampai pernah diwawancara oleh majalah sekolah, dan headline-nya: “menyaingi Bill Gates” Haha, sampai hati saya ingin tertawa sekaligus miris kalau ingat hal itu.
Saya rela meninggalkan kuliah FKUI saya karena saya ingin banget dapet ilmu secara utuh di bidang ini. Keinginan ini lama-lama entah terlupakan, atau sengaja beradaptasi dengan perubahan jaman:
Creator -> Implementer -> Konsultan
Waduh lama-lama bisa jadi Auditor! :P
Beneran deh, saya enggak pernah menganggap bahwa pekerjaan sebagai implementer atau konsultan, bahkan sebagai auditor sekalipun, menjadi sebuah pekerjaan yang lebih rendah levelnya. Pekerjaan saya sekarang pun kebanyakan menjadi konsultan terhadap kebutuhan bisnis customer yang akan ditranslasi menjadi sebuah IT Needs, dan kemudian akan diimplementasikan menjadi sebuah sistem yang tangguh.
Tapi balik lagi, ini masalah mindset yang mengena di dalam otak ini: kalau saya menjadi implementer atau konsultan, maka hasil kerja keras saya akan dapat dipakai oleh customer tersebut. Customer tersebut happy, lalu saya mendapatkan rewards diluar gaji, atau gaji saya dinaikkan, ya paling besar efeknya saya bisa nabung yang kemudian bisa dipakai untuk ternak sapi di kemudian hari.
No, no, no.
Even ketika banyak teman-teman yang kemudian keluar lalu membuat sebuah perusahaan IT sendiri. Yang dilakukan ya tidak jauh beda dengan pekerjaan sebelumnya: menjual jasa dan servis konsultasi dan implementasi.
Saya salut dengan tipe seperti ini, karena saya termasuk orang yang cukup sakit hati melihat harga yang ditawarkan oleh perusahaan ke customer atas saya. Setengah? No. Seperempat? No. Sepersepuluh? Itu aja kayaknya gak nyampe deh.
Dengan adanya tenaga ahli dari dalam negeri yang berasal dari perusahaan nasional, setidaknya kita enggak pernah membuat sekitar 90% yang diatas tersebut pergi keluar negri.
OK, sekarang katakanlah telah ada kebijakan bahwa Departemen di Pemerintah beserta kawan-kawannya (pokoknya yang pegawainya berstatus PNS :D) untuk membuat kontrak proyek pengadaan barang dan jasa mereka hanya dengan perusahaan dalam negeri. Ini seenggaknya bisa membantu temen-temen local startup company untuk bisa berkembang.
Tapi..ada tapinya..
Dalam proyek pengadaan server misalnya: apakah para perusahaan nasional tersebut mampu menyediakan server sendiri? Tentunya balik lagi..si perusahaan A bawa mesinnya IBN (nama samaran), si perusahaan B bawa mesinnya HQ (lagi-lagi nama samaran).
Dan dalam proyek pengadaan perangkat lunak: si perusahaan C bawa software dari Migrosok (nama samaran), dan si perusahaan D bawa software dari Oretel (nama samaran terakhir).
Waduh kalau begini praktiknya, maka si perusahaan nasional akan mendapatkan palingan 10% dari nilai proyek sementara si perusahaan asing akan mendapatkan bagian sisanya yang pastinya sangat besar.
Saya yakin hampir semua teman-teman saya tahu mengenai masalah ini. Dan ini yang saya ingat selalu di setiap hari saya berjalan menuju ke kantor untuk bekerja.
Saya pernah ditanya oleh seseorang, kenapa saya ingin mengejar CCIE saya. Dengan berbagai macam survei yang menunjukkan bahwa salary seorang CCIE masih yang tertinggi, atau beberapa teman yang setelah mendapatkan CCIE-nya langsung mendapatkan puluhan email tawaran kerja, dengan salary yang berlipat-lipat, atau dengan jumlah CCIE di Indonesia yang tidak terlalu banyak sehingga eksklusif, tentunya ada dorongan kesana.
Tapi sayangnya, saya hanya berpikir, kalau seseorang tidak bisa menguasai suatu teknologi, bagaimana ia dapat membuat ide baru akan teknologi baru yang dapat berguna bagi dunia?
Dan disitulah saya menyadari, bahwa sebenarnya kita semua belum out-of-track. Kita masih sama-sama belajar. Yang mungkin sesekali kita lupa adalah bagaimana kita tetap menjaga mimpi itu sehingga suatu saat mimpi itu akan menjadi sebuah kenyataan.
*Penulis bukan seorang IT Expert, bukan juga seorang enterpreneur.
Otomatis, saya hanya bisa akses komputer desktop tua yang ada di meja kerja di kamar saya, karena beruntungnya bagi kamu, saya mengubah setting login laptop kantor saya menjadi domain login, alias login online, alias kalo mau login musti konek internet dulu.
Kamu? Iya, beruntung buat kamu. Karena bentar lagi kamu bakal ketemu tulisan saya di blog yang jadi obsolete ini. :)
Mohon maaf kalau dalam beberapa bulan ini blog ini jadi terlantar. Entah kenapa, entah bagaimana, saya juga enggak ngerti kenapa aktivitas sehari-hari saya bisa mencapai volume tiada akhir. Semoga tulisan ini bisa mengobati rasa rindu kamu.
-ttd, Pemilik Blog
Kemarin persis saya lewat jalan Rasuna Said-SMA 3 Jakarta-Sudirman untuk menghindari macetnya malam Selasa yang sudah beredar dimana-mana.
Walaupun sudah beberapa kali lewat SMA 3, tapi kali itu rasanya beda, karena jalur yang saya lewati persis dengan jalur 6 tahun yang lalu. Waktu tahun 2004 itu, setiap seminggu 2 kali saya harus ke SMA 3 Jakarta buat ikut karantina Olimpiade Sains Nasional Matematika bareng 12 orang lainnya.
Saya iseng-iseng lihat profil teman-teman setelah pulang. Beberapa temen dari SMAK 1 Penabur seperti Sanders, sekarang kerja di Apple Computer. Atau Ivan, yang kerja di Intel. Edwin, yang lanjut kuliahnya di NTU, masih enggak ketahuan gimana nasibnya. Gabriella, yang dulu saya pernah suka, sekarang masih kuliah di NTU.
Entah kenapa, saya kok jadi keingetan sama diri saya 6 tahun yang lalu itu ya. Waktu itu saya sangat eager sekali dengan kemauan untuk membuat perusahaan software yang bisa menyaingi Microsoft, atau Oracle. Sampai-sampai pernah diwawancara oleh majalah sekolah, dan headline-nya: “menyaingi Bill Gates” Haha, sampai hati saya ingin tertawa sekaligus miris kalau ingat hal itu.
Saya rela meninggalkan kuliah FKUI saya karena saya ingin banget dapet ilmu secara utuh di bidang ini. Keinginan ini lama-lama entah terlupakan, atau sengaja beradaptasi dengan perubahan jaman:
Creator -> Implementer -> Konsultan
Waduh lama-lama bisa jadi Auditor! :P
Beneran deh, saya enggak pernah menganggap bahwa pekerjaan sebagai implementer atau konsultan, bahkan sebagai auditor sekalipun, menjadi sebuah pekerjaan yang lebih rendah levelnya. Pekerjaan saya sekarang pun kebanyakan menjadi konsultan terhadap kebutuhan bisnis customer yang akan ditranslasi menjadi sebuah IT Needs, dan kemudian akan diimplementasikan menjadi sebuah sistem yang tangguh.
Tapi balik lagi, ini masalah mindset yang mengena di dalam otak ini: kalau saya menjadi implementer atau konsultan, maka hasil kerja keras saya akan dapat dipakai oleh customer tersebut. Customer tersebut happy, lalu saya mendapatkan rewards diluar gaji, atau gaji saya dinaikkan, ya paling besar efeknya saya bisa nabung yang kemudian bisa dipakai untuk ternak sapi di kemudian hari.
No, no, no.
Even ketika banyak teman-teman yang kemudian keluar lalu membuat sebuah perusahaan IT sendiri. Yang dilakukan ya tidak jauh beda dengan pekerjaan sebelumnya: menjual jasa dan servis konsultasi dan implementasi.
Saya salut dengan tipe seperti ini, karena saya termasuk orang yang cukup sakit hati melihat harga yang ditawarkan oleh perusahaan ke customer atas saya. Setengah? No. Seperempat? No. Sepersepuluh? Itu aja kayaknya gak nyampe deh.
Dengan adanya tenaga ahli dari dalam negeri yang berasal dari perusahaan nasional, setidaknya kita enggak pernah membuat sekitar 90% yang diatas tersebut pergi keluar negri.
OK, sekarang katakanlah telah ada kebijakan bahwa Departemen di Pemerintah beserta kawan-kawannya (pokoknya yang pegawainya berstatus PNS :D) untuk membuat kontrak proyek pengadaan barang dan jasa mereka hanya dengan perusahaan dalam negeri. Ini seenggaknya bisa membantu temen-temen local startup company untuk bisa berkembang.
Tapi..ada tapinya..
Dalam proyek pengadaan server misalnya: apakah para perusahaan nasional tersebut mampu menyediakan server sendiri? Tentunya balik lagi..si perusahaan A bawa mesinnya IBN (nama samaran), si perusahaan B bawa mesinnya HQ (lagi-lagi nama samaran).
Dan dalam proyek pengadaan perangkat lunak: si perusahaan C bawa software dari Migrosok (nama samaran), dan si perusahaan D bawa software dari Oretel (nama samaran terakhir).
Waduh kalau begini praktiknya, maka si perusahaan nasional akan mendapatkan palingan 10% dari nilai proyek sementara si perusahaan asing akan mendapatkan bagian sisanya yang pastinya sangat besar.
Saya yakin hampir semua teman-teman saya tahu mengenai masalah ini. Dan ini yang saya ingat selalu di setiap hari saya berjalan menuju ke kantor untuk bekerja.
Saya pernah ditanya oleh seseorang, kenapa saya ingin mengejar CCIE saya. Dengan berbagai macam survei yang menunjukkan bahwa salary seorang CCIE masih yang tertinggi, atau beberapa teman yang setelah mendapatkan CCIE-nya langsung mendapatkan puluhan email tawaran kerja, dengan salary yang berlipat-lipat, atau dengan jumlah CCIE di Indonesia yang tidak terlalu banyak sehingga eksklusif, tentunya ada dorongan kesana.
Tapi sayangnya, saya hanya berpikir, kalau seseorang tidak bisa menguasai suatu teknologi, bagaimana ia dapat membuat ide baru akan teknologi baru yang dapat berguna bagi dunia?
Dan disitulah saya menyadari, bahwa sebenarnya kita semua belum out-of-track. Kita masih sama-sama belajar. Yang mungkin sesekali kita lupa adalah bagaimana kita tetap menjaga mimpi itu sehingga suatu saat mimpi itu akan menjadi sebuah kenyataan.
*Penulis bukan seorang IT Expert, bukan juga seorang enterpreneur.
Setelah lama kesini gak ada tulisan, akhirnya ada lagi!
Good luck ya kak buat semuanya! Insya Allah kalau kak Deni mah =D