Aku pinjamkan catatan ini


Minus Dua


Minggu lalu saya menemui kejadian menarik: Lift di kantor salah satu client saya mulai dari angka -2.

Saya berkesimpulan kalau -2 berarti lantai Basement 2, karena saat parkir ada tulisan B-2 di tiangnya. Selanjutnya -1 berarti lantai Basement 1.

Yang jelas saya kesana bukan untuk ngebenerin lift mereka. Bukan karena pekerjaan ngebenerin lift itu pekerjaan yang rendah, lho. Enggak gitu. Tapi karena tugas saya di sana untuk menangani keluh kesahnya si client tentang sistem IT-nya. Bukan sistem lift-nya.

Tapi kemudian saya iseng juga nanya sama kedua bapak yang saya temui, apa mereka sadar kalau liftnya start dari angka minus. Bapak pertama enggak sadar karena enggak pernah ke Basement. Bapak kedua enggak pernah sadar tulisan di lift-nya apa. Waduh..akhirnya saking penasarannya saya nawarin bapak pertama buat pulang bareng saya, cuman demi ngeliat angka di lift yang -2 itu.

Ternyata terbukti. Begitu sampai di basement 1, angka di lift berubah jadi -1. Dan kemudian berubah lagi jadi -2. Si bapak pertama malah nanya sama saya: "iya..kenapa ya?"

Tercetus saja ketika itu anggapan saya bahwa inilah cara pengelola gedung ngingetin kita kalau ternyata kebanyakan dari kita berada pada lingkungan yang berada pada dunia yang cuman ada 2 kondisi: ada atau enggak ada. Punya mobil atau enggak punya. Punya rumah atau enggak punya. Jalanan lancar atau macet.

Jarang diantara kita yang sadar kalau ada kondisi ketiga, yaitu kondisi minus. Kayaknya masih banyak orang yang jangankan buat nikmatin jalan macet, dapet kerja saja susah. Atau jangankan buat ngeluh rumah masih ngontrak terus, buat makan besok aja masih belum tentu makan nasi. Dan mungkin jangankan buat ngeluh kecapekan sama semua aktivitas, karna ternyata masih ada yang dini hari udah sibuk buat siapin jualan untuk dijual keliling besoknya seharian.

Paradigma kondisi negatif. Itu mungkin yang ingin disampaikan oleh pengelola gedung kepada kita. Bahwa tidak selamanya kita berada pada kondisi plus atau nol. Ada kalanya kita jatuh pada kondisi minus.

Ya yang namanya bilangan minus mah enggak ada batasnya ya. Cobaan seberat apapun pasti masih bisa membuat kita bersyukur atas nikmat lain yang masih diberikan ke kita. Hilang duit 1000 di kantong baju, masih ada 500 di kantong celana. Semua duitnya ilang, masih ada baju yang masih bisa dipakai. Kalau ternyata bajunya kumal, setidaknya kita masih bisa bersyukur karena masih punya harga diri untuk berusaha menutupi aurat.

Dan ketika semua itu dicabut, setidaknya kita masih bisa bersyukur pada satu hal..masih diberikan kesempatan untuk bersyukur.

~hayo habis -1 sebelum 1 di lift-nya keluar angka 0 atau huruf G?

2 Responses to “Minus Dua”

  1. # Anonymous Anonymous

    i think...my assumption is so..fuzzy  

  2. # Anonymous Anonymous

    great..thanks for sharing!!  

Post a Comment



© 2006 Aku pinjamkan catatan ini | Blogger Templates by GeckoandFly.
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.
Learn how to make money online | First Aid and Health Information at Medical Health