Biarkan hidup seperti air mengalir...
6 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Thursday, September 28, 2006 at Thursday, September 28, 2006.Hari ini berjalan seperti biasa. Tadinya firasat hari ini akan berjalan tidak sebagaimana mestinya, karena baru sampai di kampus ini sekitar jam 9 (setelah di kampus itu dari jam 7), sudah bertemu dengan kak feha, jibrilia, dan zahra (sebenernya ada yang lain, tapi gw nyadarnya cuman ada 3 orang doang), yang sedang belajar PSD diajarkan oleh kak feha selaku asdos (cieh). Ternyata firasat gw tidak terbukti. Mereka menjadi dewa/i keberuntungan justru. Hahaha. Apaan si
Selanjutnya gw berniat untuk sholat dhuha, tapi karena gw melihat ada suatu penampakan di lab besar, jadi gw ke lab. Berada di tempat yang strategis, disebelah Dyta dan Ricky. Awalnya sangat kecewa setelah ada yang keluar tiba-tiba, tapi setelah Nisa datang, dia pun mengobrol lagi. Bingung ya? Hehehe.
Sepertinya gw akan ngomongin Nisa untuk yang kedua kalinya. Asisten dosen MD ini ternyata tidak tahu sama sekali dengan yang gw ceritakan tadi siang. Akibatnya Nisa jadi tahu. Siake. Ya asal jangan kesebar aja ya nis. :)
Sesuai dengan janji gw di postingan sebelumnya, dan berhubung besok adalah deadline tugas PSD, maka gw akan menaruh tugas di kawung, tapi besok. Soalnya sekarang lagi dirumah.
Terakhir, tentang responsi di postingan sebelumnya, maaf tidak ada, karena lagi malaysia menjawab. Huhuhu. By the way, tim ACM-nya Binus sudah siap. Hasil perbincangan dengan Felix Halim, Binus menurunkan 2 tim, yang anggotanya adalah Felix, Kur2, Ndok, Cun2, Kohar, Kenny, Evan, Timo, Surya. Heran juga kenapa David gak ada ya. Yah biarkanlah. Yang penting sekarang bagaimana dengan UI? Katanya Ario, nggak ada yang berangkat buat tahun ini. Kalau begitu percuma dong gw latihan (kayak yang udah jago gituh). Hayo, tetap semangat pokoknya!
Forum CSUI06, Cerita Seminggu, dan Ujian pertama di Kampus ini
10 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Monday, September 25, 2006 at Monday, September 25, 2006.Hello world! :) Sudah lama tidak buat postingan baru lagi. Sebenarnya gak sibuk-sibuk amat, tapi kenapa ya gak bisa luangin waktu sebentar aja untuk menulis. Kayaknya kebanyakan chatting, nih, hehe. By the way, gw begitu menikmati kehidupan gw di kampus ini. Kerasa banget kalo kampus ini sudah memberi banyak sekali kepada gw, meskipun baru 1 bulan, seperti akses peminjaman buku di perpustakaan dengan memakai kartu sendiri, dapat xavier plus databasenya yang unlimited, dan yang terpenting adalah semangat gw kembali terpacu untuk mempelajari ilmu komputer lebih mendalam.
Kemarin gw sempet sharing dengan Ryan, satu pertanyaan yang cukup dalam bagi gw adalah: “Kalau cuma sebentar disini, lo mau dapat apaan, den? Taruhlah 1 tahun. Kemampuanlo udah melebihi mahasiswa tingkat 1.” Yang pertama harus gw jawab adalah, Alhamdulillah meskipun baru 1 bulan, tapi gw sudah dapat banyak ilmu baru. Nggak bisa dijelaskan secara spesifik memang, tapi setiap datang kuliah, setiap apa yang dosennya omongin, gw anggap sebagai pengetahuan baru. Yang kedua, dari dulu gw selalu berpedoman bahwa kalo kuliah cuma refer dari bahan kuliah aja, pasti kita gak bakal maju-maju. Jadi, ya, semoga bisa terjawab.
Sebenarnya masih banyak yang pengin gw lakukan di kampus ini. Ikut EALab, ikut ristek (especially robotnya, kan kalo programming club udah pernah, hehe), kenal sama semua angkatan, dan tentunya belajar ilmu komputer lebih mendalam secara 'benar'. Bahkan kalau dikasih kesempatan dapat ilmu tanpa gelar pun gw mau. Kali aja ada dosen kampus ini yang bela-belain buka kelas malam. :(
Yang agak penting selanjutnya yaitu pemberitahuan kepada mahasiswa kampus ini angkatan 2006, tadi gw sudah meluangkan beberapa megabyte di xavier ~d.hakim buat forum kita. Kayaknya ada yang kurang kalau diskusi di scele, karena hanya membicarakan pelajaran saja (meskipun di forum kita ini ada juga category kuliah). Klik sini bagi yang mengakses dari luar lab kampus ini. Klik sini bagi yang mengakses dari lab kampus ini. Lo mau share manga terbaru, mau curhat, mau nembak orang, atau bahkan mau bunuh-bunuhan, terserah karena sebanyak apapun posting, xavier ~d.hakim tidak akan berkurang. Kan databasenya unlimited :D. Selain itu InsyaAllah di xavier ~d.hakim akan secara rutin diupload slide kuliah, tugas (nyontek boleh, tapi jangan sama persis). Mengenai format, akan dibahas kemudian. *Kok tumben lo baik?* :p Hmm, sebisa mungkin kita harus saling membantu. Lagian kata orang semakin banyak kita share, ilmu kita bukan berkurang justru akan bertambah. Eh bener gak si? Bener lah ya moga2. Kalo nggak ngapain gw masih mau ngajar di NF ampe sekarang.
Tadi banyak yang menanyakan juga, “eh kemana lo sabtu ceria kemaren?” Sebenarnya gw sudah bersiap berangkat ke kampus di pagi hari meskipun telat (banget). Sekitar jam 7. Beberapa saat sebelum gw melangkahkan kaki keluar rumah, ada telepon berdering, kontan gw angkat. Ternyata dari nenek. Beliau berkata begini setelah sebentar berbasa-basi: “Den, kamu dicariin aki, tuh.”
Dengan agak merinding bercampur perasaan bersalah, akhirnya gw luluh untuk melakukan ziarah terlebih dahulu ke makam aki. Karena sudah terlanjur mengatakan pada Ryan bahwa gw sakit, maka yang lain pun gw beritahukan kalau gw sakit. Mohon maaf ya.
Minggu ini akan berat tampaknya. Karena gw menghadapi dua ujian sekaligus. Ujian yang pertama tanggal 26 September. Oh besok ya? Oh gitu. Oh bagus dong. Bagus banget. *suara agak melemah, suara pasrah, menahan tangis* Masih ada 10 jam lagi dari sekarang. Mudah-mudahan gak ketiduran. Kalaupun ketiduran, gpp, tinggal beberapa bulan lagi. *nangis beneran*
Mengapa aku berada di kampus ini?
51 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Friday, September 15, 2006 at Friday, September 15, 2006.Kelas 1 SMP, hatiku dipenuhi oleh pertanyaan bagaimana kok bisa jadi kayak gini. Gimana cara buatnya. Saat bersama teman-teman pergi ke toko yang jualan software di Glodok untuk pertama kalinya, aku mencari software apa yang bisa aku gunakan untuk membuat game seperti Road to World Cup 1998. Setelah bertanya dengan abang-abangnya, akhirnya dikasihlah Visual Basic. Sampai dirumah aku install program itu, namun rupanya aku yang masih buta sekali tentang pemrograman waktu itu, hanya bisa memandangi program Visual Basic tersebut dengan mulut menganga. Apa ini.
Karena frustasi, akhirnya aku memendam semua keinginanku itu. Aku melupakan semuanya dan kembali menekuni games yang semakin beraneka ragam. Kali ini aku menggandrungi Formula 1 dan Need for Speed. Entah kenapa, tapi aku rela duduk di depan komputer seharian penuh hanya untuk bermain kedua permainan itu.
Kelas 3 SMP, aku iseng membaca ensiklopedia yang ada dirumah sejak zaman antah berantah. Judul depannya Matematika dan Komputer. Aku tertarik dengan judul Matematika-nya. Tapi setelah aku buka, ternyata ada sebuah bab yang membahas tentang bahasa pemrograman, dibuku itu yang digunakan bahasa Basic. Jelas aku kegirangan waktu itu. Ternyata yang aku cari-cari sudah ada dirumahku sejak aku TK.
Aku baca, waktu itu ada syntaxnya gini:
100 READ A,B
200 LET X=A+B
300 LET Y=A/B
400 PRINT A,B,X,Y
500 DATA 4,8
600 END
Sekilas seperti syntax dalam bahasa Assembly. Aku mencoba mengetik di komputer, lalu aku save, dan selanjutnya bingung. Kok gak ada output seperti yang dituliskan di dalam buku. Aku mencoba berhari-hari, berharap ada yang salah pada komputerku pada hari ini, dan kembali normal pada hari esok. Tapi ternyata nihil. Waktu itu aku sama sekali tidak tahu bahwa ternyata ada proses compile yang membutuhkan sebuah compiler. Aku pun frustasi untuk yang kedua kalinya. Aku melupakan itu semua.
Masuk SMA, yakni di SMAN 28 Jakarta. Disinilah aku menemukan yang aku cari-cari. Berawal dari keikutsertaanku pada berbagai macam organisasi seperti OSIS, Rohis, dan KIR, aku pun mengenal banyak kakak kelas yang ternyata salah satunya ada yang menaruh minat pada bahasa pemrograman. Namanya Abdul Arfan. Sekarang dia juga menjadi seniorku di kampus ini. Aku diperkenalkan bahasa Basic yang sebenarnya, setelah sebelumnya sedikit otodidak dari buku yang dipinjam di Perpustakaan. Di kelas 1 SMA ini, aku pertama kali membuat game yang sangat sederhana, yaitu Snake. Konsepnya hanya memakai kalang while...do...Saat itu pula, aku mencoba Fortran dan Visual Basic.
Di kelas 1 SMA akhir, saat mengikuti Olimpiade bidang Matematika, aku baru tahu ternyata yang seperti ini ada wadahnya. Ada olimpiade khusus dalam bidang komputer, yang menggunakan bahasa Pascal. Saat itu pula aku ingin pindah bidang, namun tidak bisa karena seleksi sudah berlangsung sampai tingkat propinsi. Aku pun meneruskan mengikuti Olimpiade bidang Matematika, juga bersama Arfan. Seingatku hanya kami berdua dari SMA 28 yang masih tersisa, sehingga setiap pelatihan dan tes, aku bisa sharing lebih banyak dengan dia.
Kelas 2 SMA awal aku mulai belajar teknik algoritma, tapi gak terlalu jauh. Hanya sampai rekursi. Itu aku baca dari buku Anthony Pranata: Algoritma dan Pemrograman. Aku ingat waktu beli buku ini sampai ngebela-belain ke Gramedia Matraman karena waktu itu di Depok belum ada Gramedia.
Tahun baru mulai, seleksi olimpiade pun dimulai dari tingkat awal lagi, yakni dari tingkat sekolah. Untungnya pada tahun itu sudah ada wakil dari SMA 28 untuk mengikuti seleksi tingkat kotamadya. Tanpa ragu aku pun mendaftarkan diri untuk ikut. Bersama M.Ilman Akbar, yang sekarang juga jadi seniorku di kampus ini. Aku mulai giat latihan soal dari yang disediakan TOKI.
Beberapa hari menjelang tes, petaka pun datang. Guru komputerku memberitahu bahwa aku sudah diplot untuk ikut Olimpiade sains bidang Matematika, jadi gak bisa ikut bidang Komputer, dan namaku sudah diganti oleh orang lain. Ah, aku benar-benar kecewa waktu itu. Semua usahaku seakan jadi sia-sia. Tapi, waktu di Riau, karena hotel tempat nginep peserta Matematika deket sama Komputer, jadi sering main-main juga. Dari sana aku tahu Ricky Suryadharma yang ternyata emang pinter banget. Sayang waktu itu dapet perunggu ya kalo gak salah. Padahal bisa dapet emas tuh dia. Sekarang Ricky jadi seniorku di kampus ini, dan jadi asisten dosen di MD. Peace ya :)
Mulai dari sini aku semakin giat mencari info tentang lomba pemrograman. Hampir setiap hari aku googling dengan keyword lomba pemrograman. Sampai akhirnya ketemu dengan Binus Programming Contest (BNPC). Karena hanya boleh memakai bahasa C/C++, maka aku pun belajar bahasa C demi ikut BNPC. Namun rupanya keberuntungan belum juga menyertaiku. Lomba dilaksanakan pada saat minggu ulangan di sekolahku.
Akhirnya aku pasrah. Karena sudah kelas 3, maka aku lebih fokus kepada UAN dan SPMB. Sebenernya sejak kelas 1 SMA pun, dalam hatiku tertanam, aku harus kuliah di Teknik Informatika ITB, karena aku yakin, untuk orang yang haus ilmu komputer seperti diriku, disanalah tempat yang paling baik. Di berbagai Try Out dengan mantap aku menuliskan Teknik Informatika ITB sebagai pilihan pertamaku, walau kadang bosen dan beralih ke Ilmu Keperawatan :p. Oia, di kelas 3 ini juga aku pertama kenal dengan bahasa Java yang katanya Object Oriented, karena denger-denger dari kakak kelasku yang masuk Fasilkom, disana mempelajari Java yang utamanya.
Tadinya aku kira dengan masuk ke kampus yang itu, aku bisa melupakan bahasa pemrograman. Namun ternyata kenyataan berkata lain. Bukan jadi lupa, namun makin menjadi :D. Aku sering main ke kampus ini karena kuliahku selesai siang atau sore. Kartu perpustakaan Ilman aku jadikan senjata untuk meminjam buku referensi belajar algoritma seperti Programming Challenges dan buku algoritma lainnya di Perpustakaan kampus ini. Aku mulai ikut Topcoder, dan mempelajari OOP dengan C++ maupun Java lebih dalam, terutama STL-nya. Aku pun mulai ikut lomba pemograman secara resmi. Binus National Programming Contest, Alhamdulillah jadi Finalis. Yang jadi finalis dari UI ada 3 orang, yang 2 dari kampus ini, yang satu dari kampus itu ;p Karena penyisihannya berlangsung online terus, jadi belum ketemu sama 2 yang lain. Saat onsite final, aku pertama kenal Ilham Winata Kurnia, dan ngeliat tapi gak sempet kenalan sama Sutanto Sugii Joji. Keduanya jadi kakak kelasku sekarang di kampus ini. Waktu itu Ilham keluar jadi juara 1, ngalahin anak NTU, Unpar, dan Binus tentunya.
Gak hanya itu aja, tahun ini juga aku ikut Kampus ini Programming Contest 2006. Karena bukan anak kampus ini, jadi aku hanya diperbolehkan ikut sebagai peserta tamu. Sebagai peserta tamu, aku gak ikut dalam peringkat resmi. Tapi dalam peringkat tidak resmi aku ada di peringkat 3, dibawah Ricky Suryadharma (setim berdua sama Teddy) dan Daniel Albert (sendirian), tapi masih diatas Rizky Andriawan :p.
Pada saat itu pula pikiranku kembali melayang, memikirkan, apa sih yang telah jadi impianku sejak dulu. Akhirnya aku memutuskan masuk kampus ini dengan segala resiko dan konsekuensinya. Aku pun memberanikan diri untuk bilang ke orangtuaku, ternyata mereka setuju, dengan catatan jangan ganggu kuliahku di kampus itu.
Aku sangat gembira ketika namaku ada di koran, karena selain pada waktu test aku gak jawab soal bahasa indonesianya karena sangat aneh :). Lebih dari itu aku senang karena inilah impianku. Ya, aku berhasil menginjakkan kaki di kampus ini sebagai mahasiswa, bukan sebagai tamu lagi. Aku bebas meminjam buku di perpustakaan kampus ini dengan memakai kartu yang bertuliskan namaku sendiri. Aku bebas memakai lab (walau sampai sekarang belum bisa login di windows, cuma bisa di linux).
Sejujurnya, aku gak mau dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus memilih juga pada akhirnya. Aku ingin menikmati selama-lamanya masa-masa indah ini, karena aku tahu, ketika kenyataan itu menghadangku, aku pun harus mengubur semua cita-cita dan impianku. Ya, aku harus melepas kampus ini dan meneruskan kehidupan normalku di kampus itu.
Tapi setidaknya aku sudah bisa memenuhi cita-citaku. Yeah, aku masuk kampus ini bukan sebagai tamu lagi, tetapi sebagai mahasiswa. :)
Tulisan ini dibuat untuk melengkapi tugas sebagai mahasiswa baru kampus ini
dan tentunya untuk menjawab pertanyaan: "Mengapa aku masuk kampus ini?"
D L Hakim
dengan beberapa perubahan
Bersyukur
8 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Monday, September 11, 2006 at Monday, September 11, 2006.Dahulu, ketika masih menjadi siswa SMU, ia ingin melanjutkan ke Fakultas Kedokteran di Perguruan Tinggi ternama. Setelah masuk kedalamnya, ia berusaha menjadi mahasiswa terbaik. Ia berhasil. Dengan perjuangan kuliahnya selama 6 tahun, ia lulus dari universitas itu dengan predikat lulusan terbaik. Berbagai “Bagian” pun berebut menawarkannya untuk melanjutkan program spesialisasi didalamnya. Ia memutuskan masuk ke bagian penyakit dalam, dengan harapan bisa menjadi dokter ahli penyakit dalam terbaik di negaranya. Lagi-lagi harapannya dikabulkan oleh Allah swt.
Setelah menjadi dokter spesialis penyakit dalam, pasiennya terus bertambah setiap harinya. Tak puas dengan pendidikannya, ia meneruskan program S3-nya di Perancis. Setelah kembali ke negaranya, ia dipromosikan untuk menjadi guru besar.
Tak lama menjadi guru besar, lagi-lagi ia naik jabatan menjadi rektor perguruan tinggi tersebut. Tak menjadi rektor, ia pun dipromosikan menjadi Menteri Kesehatan. 5 tahun sudah ia menjadi Menteri Kesehatan. Sebentar lagi pemerintahan pun berganti alih. Tak mungkin ia menjadi Presiden karena ilmu yang dimilikinya untuk mengatur suatu negara belumlah cukup. Menjadi menteri lagi, hal itu tidak sesuai dengan alur riwayat kehidupannya sejak dahulu.
Di desa pinggir pantai yang terpencil, jauh dari gemerlapnya kota yang semakin dipenuhi oleh plaza dan mall, profesor itu bertemu dengan nelayan yang sedang menghitung tangkapan ikannya.
Profesor : Dapat berapa hari ini?
Nelayan : Seperti biasa.
Profesor : Mau terus pulang setelah ini?
Nelayan : Ya, setelah ini saya berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama anak saya, dan minum kopi di beranda ditemani istri saya.
Rupanya nelayan tidak menyadari sedang berbicara dengan seorang menteri.
Profesor : Sudah berapa jam melaut?
Nelayan : Baru 1 jam. Tapi ini sudah cukup untuk keluarga saya.
Profesor : Mengapa tidak lebih lama lagi? Bukankah engkau akan mendapatkan ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa?
Si Profesor mengerutkan keningnya.
Profesor : Ya untuk dijual.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor : Beli perahu yang lebih besar
Nelayan : Untuk apa perahu yang lebih besar?
Profesor : Bukankah dengan perahu yang lebih besar kau akan dapat ikan yang lebih banyak?
Nelayan : Untuk apa ikan yang banyak?
Profesor : Jelas untuk dijual lagi.
Nelayan : Untuk apa uangnya?
Profesor pun diam tak menjawab. Nelayan yang sudah selesai menghitung ikannya langsung menjawab tanpa menunggu jawaban dari si profesor.
Nelayan : Bukankan setelah itu saya akan kembali berkumpul bersama keluarga saya, bercengkrama bersama istri saya, dan bermain bersama anak saya?
Bersyukur. Itulah pelajaran ringan yang sering terlupakan oleh kita. Semakin bertambahnya hari, seharusnya semakin banyak yang kita syukuri, karena semakin banyak anugerah yang Allah berikan. Saya sendiri bersyukur bisa dari lahir ke dunia setelah melawan jutaan sperma lain, lahir dengan normal, bisa menikmati udara bersih dengan bebas, mendapatkan kasih sayang orangtua, hingga bersyukur karena bisa diberikan kesempatan untuk kuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Sementara banyak orang diluar sana yang tidak dapat menghirup udara bersih dengan bebas hingga tidak mendapatkan kesempatan melanjutkan sekolah.
Hidup disini membuat siapapun dapat mempelajari banyak hal. Termasuk saya. Dari mulai yang paling kecil, seperti kerjasama antar anggota kelompok, sampai hal yang sakral, yaitu mempelajari indahnya ciptaan Allah swt. Meskipun saya tipe orang yang keras ketika menginginkan sesuatu, saya tidak pernah beranjak dari tujuan hidup utama saya.
Seperti pohon, sebenarnya kehidupan dimanapun merupakan banyak buah ranum yang terdapat pada pohon tersebut. Tinggal gimana kita menyikapi setiap musim berbuah. Kalau siap, buah yang sudah ranum tersebut akan kita petik dan kita nikmati. Namun, kalau belum siap, buah yang sudah ranum itu mungkin saja akan jatuh mengenai kepala kita. Demikian halnya ketika kita menyikapi sebuah masalah. Kalau sudah siap menghadapi berbagai macam cobaan, barulah boleh berjuang. Fokus terhadap apa yang diperjuangkan. Jangan sampai yang perjuangan itu menjadi cobaan.
Stay the Same
2 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Saturday, September 09, 2006 at Saturday, September 09, 2006.Don’t you ever wish you were someone else
You were meant to be the way you are exactly
Don’t you ever say you don’t like the way you are
When you learn to love yourself, you’re better off by far
And I hope you always stay the same
Cuz there’s nothin’ ’bout you I would change
I think that you could be whatever you wanted to be
If you could realize, all the dreams you have inside
Don’t be afraid if you’ve got something to say
Just open up your heart and let it show you the way
Believe in yourself
Reach down inside
The love you find will set you free
Believe in yourself, you will come alive
Have faith in what you do
You’ll make it through.
Kehidupanku sehari-hari
2 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Wednesday, September 06, 2006 at Wednesday, September 06, 2006.Mengapa gw jarang bercerita kembali tentang keseharian gw disini? Ya, tepatnya karena jarang ada yang mau membaca tulisan gw. Tulisan yang agak membosankan pastinya, karena berkutat disitu-situ aja. Seperti hari ini, gw online dari jam 4 sore sampai jam 11 malam. Apa yang sudah gw dapat? Nihil. Gw hanya ber-YM ria diselingi oleh sholat magrib, makan malam, mengaji, dan sholat Isya. Niat untuk mengulang kuliah yang gw dapat tadi pun tidak jadi. Mungkin ini akibat internet unlimited yang disediakan dirumah. Dulu waktu masih jaman penjajahan, pake internet kalau ada perlu aja. Kalau mau chatting juga kalau ada yang pengen dibahas atau bener-bener lagi suntuk. Tapi sekarang, ya berkutat itu-itu aja. Messenger, Friendster, baca-bacain blog orang, dan main DOTA kalau lagi pengin.
Tulisan ini memang tidak untuk dinikmati, karena ini bener-bener curhatan hati gw malam ini. Mungkin nanti gw akan kembali berkisah. Entah sebentar lagi atau kapan. Yang jelas, blog ini hari ini akan sedikit tercoreng oleh kisah gw yang semakin suram. Kok rasanya ingin mengulang masa SMA yang begitu teratur ya. Dulu gw paling malem tidur jam 9. Setelah itu ya nggak ada apa-apa lagi. Entah bangun sekedar ingin mengecek messenger, ada yang lagi online apa nggak tengah malam, atau yang lain.
Ya, nikmati sajalah. Sebelum waktu menjadi sebuah hal berharga yang dicari-cari.
*ketahuan banget lagi desperate gitu*
Ramadhan..cepatlah datang..
3 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Tuesday, September 05, 2006 at Tuesday, September 05, 2006.Mudah-mudahan bulan Ramadhan yang akan datang sebentar lagi ini membawa berkah bagi kita. *cieh* RCTI aja udah siap dengan menayangkan sinetron Hikmah. Lupa yang keberapa. Yang jelas tadi gw nonton aja, bersama adik tercinta, meskipun dipindah-pindahin juga ke Trans TV, menonton Bajaj Bajuri yang tadi lumayan lucu. Bintang-bintangnya semakin banyak yang cantik, sayang Nia Ramadhani perannya antagonis lagi. Masa baru maen mau aborsi aja. :( Ya semoga bisa memberikan hikmah yang sesungguhnya.
Bersepeda ke kampus
5 Comments Published by Deni Lukmanul Hakim on Saturday, September 02, 2006 at Saturday, September 02, 2006.Kalau pada 25 Agustus kemarin adalah aksi simpatik pekerja bersepeda, kenapa mahasiswa gak bikin aja aksi simpatik mahasiswa bersepeda. Yang udah bisa menghasilkan duit aja mau ke kantor naik sepeda, lalu kenapa kita para mahasiswa yang kerjaannya ngedompleng sama orangtua nggak bisa? Menurut survei yang dilakukan oleh saya di kampus saya, ternyata sebagian besar mahasiswa kampus saya rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus. Tidak terlalu jauh disini berarti berjarak kurang dari 10 kilometer.
Sebenarnya kalau mau dihitung-hitung, naik sepeda ke kampus mempunyai beberapa keuntungan dibanding membawa mobil pribadi atau naik kendaraan umum, diantaranya:
1. Gratis. Karena sepeda tidak memerlukan bahan bakar, maupun ongkos.
2. Lebih cepat. Karena sepeda tidak mengenal kata macet.
3. Bisa menghayati pemandangan sekitar. Karena naik sepeda relatif konstan kecepatannya, tidak terlalu cepat, maupun lambat, jadi kita bisa melihat jalan yang kita lewati dengan seksama. Dimana warteg yang murah, dimana musholla yang bersih, dan yang paling penting dimana bengkel sepeda!
4. Bisa diet. Kalori yang dikeluarkan dalam 1 jam naik sepeda ternyata cukup pas bagi orang yang ingin menguruskan berat badannya.
5. Bisa terkenal di kampus. Ya, bisa terkenal di kampus. Ketika banyak mahasiswa yang mengendarai mobil atau motor, kita bisa jadi pusat perhatian orang-orang dengan naik sepeda. Orang-orang pasti akan berdecak, entah dengan nada kagum, heran, atau menghina. :D
6. Tidak repot mencari tempat parkir. Di kampus saya tempat parkir merupakan harta berharga yang sangat teramat dicari keberadaannya. Dengan naik sepeda, kita tidak perlu repot mencari tempat parkir. Cukup hanya mencari pagar besi, selotkan kunci disana, jadilah sepeda sudah aman. Tentunya dengan pengecualian tidak ada yang bawa gergaji. :p
Naik sepeda ke kampus, yuk!
