Aku pinjamkan catatan ini


Dari Monitor Depok ke Facebook

Lagi-lagi saya melupakan blog ini ya. Di sela-sela jam makan siang, karena hari ini saya tidak makan siang karena insyaAllah sedang shaum, saya mau share mengenai cerita seminggu lalu yang agak unik di rumah saya.

Sekitar seminggu yang lalu, ada harian Monitor Depok yang tergeletak di ruang tamu. Rupanya harian tersebut masih rutin menyajikan kolom Hikmah, enggak tau tiap hari atau seminggu sekali.

Hari itu Muhammad Arifin Ilham yang mengisinya.

Beliau berpesan seperti ini:
“Suami sholeh adalah suami yang menjadi teladan dalam ketakwaan kepada Allah, dikagumi istri & anak-anaknya. Kadang ia menjadi imam dengan kemuliaan akhlak, kadang menjadi guru yang pintar dan kharismatik bagi anak-anaknya, orangtua pelindung yang bijak, pangeran yang gagah, pacar yang genit, dan juga teman sejati.

Eh, kadang-kadang kekanak-kanakan, suka bercanda & manja sekali pada istrinya (QS 30:21). Ia memaksimalkan ikhtiar & doa untuk keluarganya agar selamat dari fitnah dunia & akhirat. Keluarga baginya adalah yang pertama, tetapi umat baginya utama..”

Subhanallah. Sebegitu detail Ustadz Arifin mendeskripsikan tentang suami sholeh.

Saya enggak mau menambahkan cerita lagi kecuali yang satu ini. Ceritanya, ayah saya bersahabat sama Ustadz Arifin sudah cukup lama, semenjak saya SMP, karena ayah membeli rumah yang sebelumnya ditempati oleh Ustadz Arifin. Jadi menurut saya wajar kalau ayah pasti baca kolom ini. Secara fotonya sebesar tulisannya hehe.

Tapi yang mengagetkan, tiba-tiba aja ayah buat note baru di facebook. Isinya kutipan dari harian Monitor Depok ini. Hihi, si ayah..ada2 aja ya..

Semoga Sukses

Semoga sukses. Itu sepotong kalimat terakhir yang bisa gw ucapkan ke seorang teman yang di awal bulan ini tidak diperpanjang kontraknya. Gw gak tau gimana rasanya, tapi semoga itu jadi pelajaran yang berharga untuknya. Semoga hidupnya akan tambah sukses setelah ini.

Ayah pernah bilang kalau di dunia kerja itu enggak terlalu penting untuk cerdas, tapi gimana kita bisa memadukan antara cerdas dan lobi-lobi yang baik ke atasan. Semakin keatas, cerdas menjadi tidak terlalu penting, dan lobi menjadi hal yang lebih menarik untuk dilakukan.

Itu yang menjadikan gw akhirnya mutusin buat bekerja di perusahaan multinasional, dimana kita dinilai berdasarkan kapabilitas kita.

Walaupun pada akhirnya gw berada pada zona tidak nyaman. Dengan sekian banyak lulusan mahasiswa Computer Science dan Electrical & Informatics Engineering yang dihasilkan tiap tahunnya membuat persaingan antar Engineer di bidang IT Consultancy pun semakin berat. Belum lagi ditambah orang-orang yang banting setir pindah ke bidang IT.

Gw bersyukur karena perusahaan buru-buru membekali gw dengan skill yang unik. Kalau bisa hitung berapa orang yang pernah sekolah AS/400 plus High Availability-nya tapi juga punya pemahaman mendalam tentang Network ditambah programming skill yang not bad, mungkin gak terlalu banyak. Dengan itu gw bisa menentukan carrier path untuk selanjutnya di bidang Software Engineering untuk kemudian jadi Architect. Semoga Allah bisa melancarkan jalan kita semua untuk kemajuan bangsa. Amiin.

Tapi bagaimana jadinya seorang fresh graduate yang tidak tahu apa-apa melamar sana sini ditambah lagi dengan banyak perusahaan yang sekarang melakukan proses Outsourcing. Akhirnya banyak yang 'terpaksa' masuk sebagai tenaga outsource.

Memang jam kerja mungkin akan lebih fix, sekian jam perhari. Sedikit berbeda dengan yang misalnya punya waktu sangat flexible. Kadang bisa pulang sore, kadang malem banget. Kadang hari ini kerjanya cuman 7 jam, tapi besok musti 13 jam. *curcol*

Tapi setelah gw mempelajari bagaimana peraturan yang ada di Indonesia, kontrak itu hanya boleh sampai 2 tahun. Beruntung bagi perusahaan yang punya banyak anak perusahaan, karena setelah 2 tahun di anak perusahaan A, kemudian kontrak dipindahkan ke anak perusahaan B. Begitu selanjutnya.

Dan begitulah yang kejadian sama temen gw yang kontraknya persis habis bulan Februari kemarin. Dengan alasan kinerja, kontraknya tidak diperpanjang di bulan Maret ini. Atau dengan kata lain, minggu lalu jadi hari terakhirnya.

Miris.

Dan ini bakal berputar seperti ini terus kalau tidak ada perubahan yang berarti. Kurikulum IT di berbagai macam kampus yang sebagian besar mendidik bagaimana supaya si mahasiswa bisa mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Bahkan ada yang iklannya: "Mau dapet kerja? Masuk ****"

Sama sekali tidak ada pemberian pemahaman bahwa sekarang lowongan pekerjaan yang berkualitas untuk lulusan IT itu semakin berkurang. Kata-kata berkualitas mungkin relatif. Tapi jaminan kesehatan, gaji yang bisa menghidupi ia dan pasangannya (juga kalau nantinya punya anak), tunjangan yang cukup untuk keperluan sekunder sekalipun, ditambah dengan jaminan hari tua, mungkin itu mutlak hukumnya.

Perlu ada pemahaman bahwa kita musti belajar bagaimana bisa memindahkan industri software dan hardware sekelas IBM, Microsoft, Intel, Apple, dll, ke negara ini. Jangan biarkan banyak uang kemudian lari keluar Indonesia hanya karna kita mau beli license atau beli server. Kalau kita bisa membuatnya sendiri, kenapa musti beli sama luar?

Gimana caranya, mungkin para akademisi lebih mengetahui. Atau malah praktisi yang sudah berkecimpung puluhan tahun.

Yang jelas, yang terbaik yang bisa gw lakukan adalah gimana cara transfer knowledge sama setiap temen-temen yang kebetulan masih outsource, sehingga bisa terjadi peningkatan skill, pengembangan kepribadian, yang semoga menjadi peningkatan dalam kesejahteraan.

Semoga sukses. Mari kita berpikir dalam skala yang lebih besar. InsyaAllah kita bisa.

Kisah Pak Suyatno

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam.

Pak Suyatno, 58 tahun, kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikarunia 4 orang anak.

Awal cobaan menerpa setelah istrinya melahirkan anak ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ketiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya.

Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu , semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.........bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.”

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini. Kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian."

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.

“Anak-anakku ......... Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah......tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang. Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa.

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio. kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru karena disitulah pak Suyatno bercerita:

"Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) semua menjadi sia-sia. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan diamemberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit."

Kisah Hasan Basri

Terkisah Hasan Basri, seorang imam termahsyur yang memiliki wajah yang rupawan. Beliau sering berjalan-jalan keliling kota Basrah karena sangat senang dengan keindahan dan keramaian penduduk yang tinggal di kota itu.

Pada suatu hari, ketika Hasan berjalan, secara tiba-tiba beliau melihat seorang wanita cantik. Melihat wanita cantik itu. Hasan berjalan mengikutinya.

Wanita itu menoleh, sambil berkata kepadanya: "Apakah engkau tidak malu?"

"Malu pada siapa?" Hasan menjawab.

Wanita itu berkata. "Malu kepada Zat Yang Maha Mengetahui, mata yang khianat dan apa-apa yang terlintas di dalam hati."

Tertanam rasa cinta di dalam hati Hasan terhadap wanita itu sehingga ketidaksabaran dan godaan hawa nafsu membuatnya terus berjalan mengikuti wanita itu.

Wanita itu berkata lagi kepadanya, "Mengapa engkau mengikuti aku?"

"Sungguh, aku terpesona dengan pandangan matamu itu," Hasan menjawab.

Wanita itu kembali berkata, "Tunggulah di sini, nanti akan aku kirim apa yang engkau kehendaki."

Hasan beranggapan wanita itu menaruh cinta kepadanya, sebagaimana dia jatuh cinta kepada wanita itu. Beliau pun menunggu di tempat itu.

Tidak beberapa lama kemudian, datanglah seorang pelayan wanita cantik itu kepadanya membawa nampan bertutupkan sehelai sapu tangan.

Ketika Hasan membuka tutup bekas itu, ternyata dua mata wanita itu ada di dalamnya. Melihat hal sedemikian, maka pelayan berkata. "Sungguh tuan puteri berkata: 'Aku tidak ingin mata yang memuatkan fitnah dan mempesonakan orang.'"

Seketika dia gemetar dan bulu romanya berdiri. Hasan lalu memegang janggutnya dan berkata kepada dirinya: "Celaka engkau, sebab sudah berjanggut mengapa tidak malu terhadap wanita cantik itu."

Dia pun menyesal dan bertaubat pada saat itu sebelum pulang ke rumahnya dan menangis semalaman. Keesokan paginya, Hasan ke rumah wanita itu untuk meminta maaf segala kesalahannya.

Setelah tiba di rumah wanita tersebut, Hasan menemui rumahnya tertutup dan mendengar suara tangisan wanita dari dalam rumah itu. Akhirnya, beliau pun bertanya apa yang terjadi.

Dikatakan bahwa pemilik rumah itu meninggal. Hasan kembali ke rumahnya dan menangis selama tiga hari.

Pada malam ketiga, dia bermimpi melihat wanita cantik itu sedang berada di dalam syurga.

Hasan berkata kepada wanita itu dalam mimpinya. "Hai wanita yang cantik, maafkan semua kesalahanku."

Wanita itu menjawab. "Sungguh, semua sudah kumaafkan kerana aku memperoleh kebaikan daripada Allah sebab engkau."

Hasan kemudian kembali berkata, "Berikanlah kepadaku akan nasihatmu."

"Kalau engkau sendirian, berzikirlah atau ingatlah kepada Allah. Dan pada setiap pagi maupun petang, beristighfar memohon ampun kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya." kata wanita tersebut.

---
Sungguh, seringkali kita dibiaskan oleh banyak hal di dunia ini. Alangkah mulianya akhlak wanita di kisah tersebut. Semoga kita bisa sama-sama menjaga hati, lisan, dan pandangan, dari apa yang menjauhkan diri kita dari Allah swt.

Kemampuan Hipnotis Terpendam?

Belakangan ini gw punya hobi baru: mengamati perilaku orang-orang yang ada di sekitar gw. Mungkin suatu saat gw bisa menggunakan hobi gw ini ketika gw punya 1000 orang karyawan yang bekerja di perusahaan gw. Amiin.

Kebetulan kerjaan gw mendukung banget hobi baru gw tersebut. Gw bisa ketemu sekitar 30 orang dari background yang berbeda-beda tiap bulannya. Malah kalau 'beruntung' bisa lebih.

Yang menarik, kenapa belakangan ini gw sering perhatikan bahwa ada beberapa client gw yang niru cara kerja gw. Seriously, ini bukan Ge-eR. Tapi ketika gw biasanya 1 minggu gw bekerja dengan si client, maka hari keesokannya gw merasa gaya gw banyak yang ditiru.

Sebenernya sih enggak ada masalah apa-apa. Karena gw biasanya dengan senang hati memberikan beberapa best practices yang konon berasal dari perusahaan teknologi terbesar di dunia tempat gw berasal.

Tapi kadang yang bersangkutan bisa mengubah kebiasaan rutinnya sampai ke hal yang kecil misalkan kebiasaan gw mengucapkan beberapa kata pertama yang agak ajaib ketika mau nelpon orang atau sholat dzuhur terlebih dahulu sebelum makan siang. Kalau cuman kejadian sama 1 orang menurut gw wajar. Tapi kalau udah kejadian ke orang ketiga, kayaknya rada serem juga yah.

Gw jadi inget kejadian beberapa tahun lalu pas gw kuliah di tingkat 2. Gw punya beberapa anak tingkat 1 yang gw asdosin nih ceritanya, dan kebetulan waktu itu lagi ketemu di sekre square (ini tempat anak-anak Fasilkom UI ngumpul). Mereka berenam lagi belajar Matematika Diskrit, ketemu gw, dan langsung nanya beberapa pertanyaan.

Sekitar 15 menit gw jelasin, mereka ngangguk-ngangguk. Di tengah-tengahnya gw sambil cerita yang agak Out of Topic tentang perkuliahan, dan kayaknya mereka interested banget. Kebetulan waktu itu gw terlibat di kepanitiaan Ospek. Setelah itu adzan ashar ni ceritanya. Yaudah gw berdiri, dan nanya: "Mau sholat ashar dulu gak?"

Keenamnya, yang semuanya cowo, pada ngangguk dan berdiri ngikutin gw jalan ke musholla.

Gak ada yang aneh sampai di musholla. Sampai setelah kita semua pada buka sepatu dan mau ambil wudhu, salah satu diantara mereka ada yang tiba-tiba pake kaos kaki & sepatunya lagi sambil bilang: "saya lupa, kak, saya enggak sholat"

Jreng jreng..

Minus Dua


Minggu lalu saya menemui kejadian menarik: Lift di kantor salah satu client saya mulai dari angka -2.

Saya berkesimpulan kalau -2 berarti lantai Basement 2, karena saat parkir ada tulisan B-2 di tiangnya. Selanjutnya -1 berarti lantai Basement 1.

Yang jelas saya kesana bukan untuk ngebenerin lift mereka. Bukan karena pekerjaan ngebenerin lift itu pekerjaan yang rendah, lho. Enggak gitu. Tapi karena tugas saya di sana untuk menangani keluh kesahnya si client tentang sistem IT-nya. Bukan sistem lift-nya.

Tapi kemudian saya iseng juga nanya sama kedua bapak yang saya temui, apa mereka sadar kalau liftnya start dari angka minus. Bapak pertama enggak sadar karena enggak pernah ke Basement. Bapak kedua enggak pernah sadar tulisan di lift-nya apa. Waduh..akhirnya saking penasarannya saya nawarin bapak pertama buat pulang bareng saya, cuman demi ngeliat angka di lift yang -2 itu.

Ternyata terbukti. Begitu sampai di basement 1, angka di lift berubah jadi -1. Dan kemudian berubah lagi jadi -2. Si bapak pertama malah nanya sama saya: "iya..kenapa ya?"

Tercetus saja ketika itu anggapan saya bahwa inilah cara pengelola gedung ngingetin kita kalau ternyata kebanyakan dari kita berada pada lingkungan yang berada pada dunia yang cuman ada 2 kondisi: ada atau enggak ada. Punya mobil atau enggak punya. Punya rumah atau enggak punya. Jalanan lancar atau macet.

Jarang diantara kita yang sadar kalau ada kondisi ketiga, yaitu kondisi minus. Kayaknya masih banyak orang yang jangankan buat nikmatin jalan macet, dapet kerja saja susah. Atau jangankan buat ngeluh rumah masih ngontrak terus, buat makan besok aja masih belum tentu makan nasi. Dan mungkin jangankan buat ngeluh kecapekan sama semua aktivitas, karna ternyata masih ada yang dini hari udah sibuk buat siapin jualan untuk dijual keliling besoknya seharian.

Paradigma kondisi negatif. Itu mungkin yang ingin disampaikan oleh pengelola gedung kepada kita. Bahwa tidak selamanya kita berada pada kondisi plus atau nol. Ada kalanya kita jatuh pada kondisi minus.

Ya yang namanya bilangan minus mah enggak ada batasnya ya. Cobaan seberat apapun pasti masih bisa membuat kita bersyukur atas nikmat lain yang masih diberikan ke kita. Hilang duit 1000 di kantong baju, masih ada 500 di kantong celana. Semua duitnya ilang, masih ada baju yang masih bisa dipakai. Kalau ternyata bajunya kumal, setidaknya kita masih bisa bersyukur karena masih punya harga diri untuk berusaha menutupi aurat.

Dan ketika semua itu dicabut, setidaknya kita masih bisa bersyukur pada satu hal..masih diberikan kesempatan untuk bersyukur.

~hayo habis -1 sebelum 1 di lift-nya keluar angka 0 atau huruf G?

Welcome Back, Dreams!

Tomorrow I will join a cool event, called Random Hack of Kindness (RhoK). Sponsored by Google, Microsoft, Yahoo, and Australian Embassy, I was invited to give a thought how to solve the disaster recovery in Indonesia.

I love the event from the first sight. Since from the event I can create something useful for disaster recovery, it means that I can give something for the country. Another reason why I join them and delaying my France exam (which occurred at the same time) is..going to lab.

It’s not a medical lab or a mechanical lab. It’s a software engineering lab. It’s only just a luck (from God) who bring me into what I’m working on now. Now I’m working as an IT consultant who had many clients and implementing the same methods and works recurrently. It’s quite challenging to deal with people, make a negotiation with customer, build networking (having 3 times better $$ job offering from customer in the first 2 years), and the important thing, mixing hard and soft skills.

No, I’m not a type of person who had a bad soft skill..although I’m not that good :P But the most important thing why I’m thinking to quit is because of lab. Yes, those 3 letters. L, A, B.

You know what, working in Silicon Valley is cool. Working in one lab in Silicon Valley is great. You are working in the center of Technology Development, which make you keep updated in what is the newest technology developed instead of reading Chip, Info Komputer, or another Indonesian local Technology magazine.

And I’m sure that tomorrow, one location in Thamrin will be one great mini lab which filled in by many geeks who want to contribute to the country and also to have an exposure from big company which has a great software lab.

A friend asked me a simple question: “now you’re part of the biggest IT company in the world..why don’t you join their lab?”

For this question, I just can give a smile then :)




© 2006 Aku pinjamkan catatan ini | Blogger Templates by GeckoandFly.
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.
Learn how to make money online | First Aid and Health Information at Medical Health