Sunday, 27 November 2016

Simple kinds of happy life

I started off this morning with a happy smile on my face. The weather were good with rain all day long. Everyone jumped the rain, as if it’s only came once in decades. Clearly it comes more than once in a decade, even more than once in a year, but that once in decades' feel is true if you live in here. After long drought of summer, when it comes to November, everything changed dramatically.

It's dramatic as my life years ago until it lasted 2 years ago. The flexible working hours time in IBM at that time brought me to found a startup during my tenure in IBM. I was also keen to applying to Graduate School, the best one of them, named Stanford, MIT, Berkeley. I was trying to work in startup full time, but failing on it, and tried to work in a totally different industry afterwards.

After 3 months running a startup company, I found that it was really promising and I chose to quit from IBM to fully working on the startup. I worked very hard for average of 12 hours a day, until I found out 6 months later that things didn’t work so good. The startup is now disappeared – even the domain is already on the cheap auction – as if nothing had been happened.

I then worked in a company which specialized in heavy equipment and mines industry. It was a long story why I chose that way, which in a nutshell will be like this: “my father lost his full pension fund while he invested in a heavy equipment and mines company”. I was not only learning heavy equipment and mines, in a relative short time, I traveled to fabulous places, places that I haven’t visited.  I work there until I realized the farthest I learn into the business, things that happened to my father can’t be undone.

At that moment, I was type of person that stick on the my dream. For me, the right thing were only working on big software company, studying in top notch US school, and live happily ever after. Suddenly, I get an offer from a company which I never heard of, in a location that I never dreamed of. While I didn’t know exactly what life can bring me with my previous employer, taking another gambling was not making situation became any worse.

I accepted the offer and the process of taking me away from my country was happening very fast. It’s kind of Doraemon’s door who suddenly put me in a country where I am today, on the same month two years ago.

Again, things were changing quite contrast. While I had expected to work very hard as an expatriate in a fast growing country, everything surprisingly became way slower and easier. Thus I have been having good time for my kids, and seeing things in different way.

If we remembered time when we were in the school, most of us will say that we were very happy at that time, happier than we are now. Working on a small thing at one time was probably one reason. We didn’t think how we could live in the future 10 years, what if we’re failing, and options of better things than what we were already doing. We were just simply sticking to one thing and working on it.

The way I feel happier now is most probably because of the same reason. Fewer options that I can do made me focus to what I am doing. For example, I can’t simply build a business here, not only because it’s not possible as my employer restriction, but also because of the some weird policies that applied only to expatriates.

The other possible reason come from how grateful I'm to the life I live. I happened to think what I already have instead of thinking something I don’t. Having beautiful wife, wonderful kids, and best work environment, what else? But I also realized that even though we’re living on a lowest point in life, we can always find reasons why we have to be grateful.

In these two years, those are things that I learned, as simple things that changed my life. Hopefully this writing can be a self reminder to myself in the future, in case I have a chance of forgetting these while chasing a better–called life.

Tuesday, 29 December 2015

Blog

Kemungkinan ini adalah post terakhir (yang dipaksain untuk nulis) di 2015. Tadi sempet blogwalking yang diinisiasi oleh hasil share-an dari Facebook. Ada beberapa hal yang menarik:
1. Sekarang kita udah jarang banget blogwalking tanpa diinisiasi dari hasil share-an dari Facebook. Jadi, kayaknya nge-share di Facebook itu jadi hal wajib banget setelah post sesuatu di blog.
2. Widget lucu-lucuan di blog udah jarang muncul. Dulu, kalau lagi blogwalking dan nemu widget lucu pasti mau ngikutin. Nah hasil dari blogwalking, gw nemu Widget Anniversary, umur anak, sampai ke berat badan. Widget ini sekarang udah ada di blog ini di sebelah kanan page.

Sekilas tentang 2015, gw gak bisa minta apa-apa lagi dari yang udah Allah kasih selama ini. Semuanya perfect. Alhamdulillah..

Sunday, 20 September 2015

Hari ini tepat 2 tahun yang lalu

Dua tahun lalu, hari Minggu, 21 September 2013, kami masih tinggal di Pondok Kopi, jauh dari orang tua yang tinggalnya di Depok dan Pasar Minggu.

Waktu itu mobil kebetulan lagi di Bengkel. Berhubung hamilnya Tania udah di minggu ke 37 atau 38, jadi dari beberapa hari sebelumnya kita sempet minjem mobil dari Depok. Karena rencananya Senin mobil sudah selesai dari bengkel, jadi sehari sebelumnya mobilnya dikembaliin lagi ke Depok. Jadi hari itu jadi hari pertama enggak ada mobil di rumah.

Tepat habis Magrib, tiba-tiba Tania keluar air ketuban. Masya Allah, ternyata pas di hari itu lah D-day-nya. Inget banget Habibie yang waktu itu masih 1 tahun lebih beberapa bulan langsung jalan keliling rumah karena ikut-ikutan panik. Si Mbak langsung beberes barang-barang yang mau dibawa ke Rumah Sakit. Dan gw langsung naik sepeda ke jalan raya untuk cari taksi. Taksi Bluebird atau Express yang penting yang lebih cepat. Enggak kepikiran lagi buat mesen via Apps. Alhamdulillah langsung dapat taksi yang supirnya kebetulan seorang bapak yang sudah punya cucu.

Dalam waktu kurang dari 10 menit, kita langsung jalan ke RS YPK Menteng. Perjalanan lewat jalan Casablanca juga alhamdulillah lancar sekali, mungkin karena Minggu malam juga. Enggak kebayang kalau kejadiannya beda beberapa jam di Senin pagi. Selain gw yang udah berangkat ke kantor, juga pastinya akan kena macet. Kita milih di RS YPK Menteng karena ada salah satu dosen Tania yang praktek disana. Jadi hanya masalah convenient sama siapanya.

Di perjalanan gw langsung telepon RS YPK Menteng, yang kebetulan diangkat sama Tante Tini, bidan yang juga tetangga sebelah rumah Bapak di Depok. Tante Tini ini jadi tetangga sebelah rumah gw dari mulai gw bayi, jadi kita udah berasa keluarga. Dokter langsung ditelpon untuk datang.

Sampai di RS YPK Menteng sekitar jam 7 PM, Tania langsung masuk ke ruang persalinan. Habibie nunggu di ruang tunggu sama Mbak. Practically kita cuman berempat aja waktu itu di RS. Orangtua dari Depok maupun dari Pasar Minggu baru sampai setengah jam kemudian.

Ternyata waktu Tania sampai di RS sudah pembukaan ke 3. Dan berjalan sangat cepat sekali, sampai akhirnya sebelum jam 8 PM bayi mungil lucu itu sudah muncul ke dunia, bahkan sebelum dokter kami datang. Total kurang dari 2 jam dari mulai 'alarm' peringatan muncul.

Bayi itu kita kasih nama Narendra Lukmanul Hakim. Narendra ini kepikiran hanya beberapa hari sebelum lahiran, selain karena Prime Ministernya India Narendra Modi yang berita bisa di-googling, juga karena harapan orangtuanya supaya kelak bayi ini bisa jadi pemimpin umat.

Malam setelah lahiran itu, semua keluarga pulang, Habibie tidur sama neneknya di Pasar Minggu. Mbaknya juga ikutan. Jadi cuman ada gw dan Tania aja di kamar RS yang agak besar di YPK. Waktu itu kita jadi berasa lagi piknik, karena jajanan di depan YPK yang enak-enak. Agak beda sama waktu lahiran Habibie di RS Permata Cibubur yang daerah sekitarnya sepi.

Setelah Naren dan Tania dibolehkan pulang, kami mulai hari-hari yang baru di Pondok Kopi berlima, karena sekarang udah ditambah Naren. Alhamdulillah enggak ada perubahan yang berarti di Habibie, gak cemburu, malah seneng punya adek baru. Sampai sekarang gw ngerasanya kalau Habibie bahkan belum sempet sadar kalau dulu pernah ada di masa jadi anak tunggal, cucu tunggal.

Walaupun berantemnya kakak adek gak terhitung jumlahnya, tapi alhamdulillah masing-masing saling menikmati punya saudara laki-laki. Semoga mereka berdua bisa jadi partner dalam segala hal kebaikan sampai besar nanti.

Selamat Ulang Tahun, anakku Naren, semoga Allah menyertai jalanmu kelak, menjadi anak yang sukses dunia akhirat. Aamiin.

Sunday, 2 August 2015

Train Lego vs Train Beneran

Habibie dan Naren lagi main lego.

Habibie: Papa, aku habis bikin train lego.
Papa: Hebat banget, coba dong buat mobil.

Habibie: Enggak bisa Papa, kalo mobil dibuatnya di pabrik, enggak bisa di rumah.
Papa: Yaudah bikin train lagi aja yang banyak, supaya bisa panjang train-nya.

Habibie: Enggak bisa juga Papa, kalo bikin train harus di pabrik, enggak bisa di rumah.
Papa: Kan tadi Kak Bibi bikin train?

Habibie: Itu train lego, Papa. Kalo train bikinnya di pabrik.
....

Thursday, 23 July 2015

Pledoi Syifa

Beberapa hari terakhir ini, kasus Hafidz dan Syifa terangkat kembali. Dulu kasus ini pernah jadi trending topic bukan hanya di twitter saja, tapi juga di lingkungan RT gue, karena lokasi Hafidz dan Syifa membuang Almarhumah Ade Sara persis di dekat gerbang tol Bintara, dekat rumah gue di Pondok Kopi dulu.

Yang menarik dari kasus ini, Syifa membacakan pledoi yang entah kenapa membuat gue jadi teringat sesuatu: Hukum tidak akan pernah bisa menghapus kesalahanmu. Allah akan selalu memaafkan kesalahanmu ketika kamu bertobat. Masya Allah, baik sekali ya Allah. Karena kebaikan-Nya, kadang kita suka lupa, setelah tobat, kita lakukan kesalahan yang sama, lalu tobat lagi, dan lakukan kesalahan yang sama lagi.

Iterasi itu akan terus berjalan, hingga kita menemukan titik dimana kita menerima peringatan berupa balasan yang langsung bisa kita rasakan. Di titik itu kita baru sadar: Allah baik sekali ya. Gue kutip dari detik.com disini sebagai pengingat untuk gue sendiri karena susah untuk buka detik.com.

Majelis hakim yang Syifa muliakan

Syifa mohon kehadapan majelis hakim dengan segala rasa penyesalan dan tobat syifa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Kiranya Tuhan yang Maha Esa bisa memberikan ampunan kepada Syifa dan kehadapan majelis hakim Syifa sangat memohon agar dapat diberikan keputusan yang adil, arif dan bijaksana serta putusan yang seringan-ringannya kepada diri Syifa yang bisa Syifa jalani dengan penuh tanggungjawab untuk menebus kesalahan dan dosa yang telah Syifa perbuat dan kiranya putusan majelis hakim tersebut tetap memberikan kesempatan kepada Syifa untuk dapat melanjutkan pendidikam dikemudian hari.

Syifa berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, dan syifa akan menepati janji Syifa ini. Majelis hakim Syifa masih mempunyai harapan dan saat ini meneruskan pendidikan untuk mewujudkan semua cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tua Syifa keluarga Syifa dan orang-orang di sekitar Syifa.

Syifa masih ingin menepati janji Syifa kepada mama untuk membiayai beliau naik haji, Syifa juga akan menepati janji Syifa kepada saudari Syifa untuk menjadi orang yang sukses.

Syifa mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Ade Sara terutama kepada kedua orang tua Ade Sara Om Suroto dan Tante Elizabeth. Maafkan Syifa karena telah membuat duka yang teramat dalam di hati Om Suroto dan Tante Elizabeth.

Kepada teman-teman Syifa, kepada pihak sekolah atau kampus tempat Syifa belajar, Syifa juga memohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekali lagi Syifa mohon khususnya kepada mama dan papa untuk senantiasa mendoakan Syifa anak mama dan papa agar kiranya Syifa tetap tegar dan sabar dalam menjalani ujian hidup yang berat ini.

Jujur terkadang timbul dari dalam diri Syifa rasa putus asa dan ingin segera mengakhiri hidup agar segera kembali ke pangkuan Ilahi Robbi. Namun Syifa sadar, hal itu bukanlah solusi bagi diri Syifa untuk belajar akan arti kehidupan ini.

Semoga mama dan papa tetap mendoakan Syifa agar bisa keluar dari cobaan dan ujian ini dengan selamat.
Amin ya robbal alamin.

Sunday, 31 May 2015

Commutative, Associative, and Distributive Law in Modulo

I still remember the old days when we learned about the Distributive, Associative, and Commutative Law in Addition, Subtraction, Multiplication, and Division in the Elementary School. If you already forget what the law stated, here I describe again:

Commutative:
Commutative Law means we can change the position of the numbers and still get the same result.
Working on:
Addition: 5 + 6 = 6 + 5
Multiplication: 5 x 6 = 6 x 5

Not Working On:
Subtraction: 5-6 != 6-5
Division: 5/6 != 6/5

Associative:
Associative Law means we can change the group of the numbers and still get the same result.
Working on:
Addition: (5 + 6) + 7 = 5 + (6 + 7)
Multiplication: (5 x 6) x 7 = 5 x (6 x 7)
Division: (5 / 6) / 7 != 5 / (6 / 7)

Not Working On:
Subtraction: (5 - 6) - 7 != 5 - (6 - 7)


Distributive:
Distributed Law means we can distribute the number into group of the numbers and still get the same result.
Example:
5 x (6 + 5) = 5 x 6 + 5 x 5

How about the Modulo? Is the same law can working in the Modulo?
Commutative:
Not working: 7 % 5 % 3 != 7 % 3 % 5

Associative:
Not working: (7 % 5) % 3 != 7 % (5 % 3)

Distributive:
Not working if the group come second: 7 % (5 + 3) != (7 % 5) + (7 % 3)
But working if the group come first    : (7 + 5) % 3 = (7 % 3) + (5 % 3)

Why I'm writing this? Is there any place of the world even concern about this?

There is a problem when we want to take a modulo function for a big number. For example:
8904835093485098039482094853094850249583023948093840298340988405345 % 4
We can count the modulo of the last digit first, and then the second digit multiply by 10, which can be separate into several groups, then we can add all of the sum.

And of course I believe there are many computational problems out there that can be solved by this law.