Tuesday, 29 December 2015

Blog

Kemungkinan ini adalah post terakhir (yang dipaksain untuk nulis) di 2015. Tadi sempet blogwalking yang diinisiasi oleh hasil share-an dari Facebook. Ada beberapa hal yang menarik:
1. Sekarang kita udah jarang banget blogwalking tanpa diinisiasi dari hasil share-an dari Facebook. Jadi, kayaknya nge-share di Facebook itu jadi hal wajib banget setelah post sesuatu di blog.
2. Widget lucu-lucuan di blog udah jarang muncul. Dulu, kalau lagi blogwalking dan nemu widget lucu pasti mau ngikutin. Nah hasil dari blogwalking, gw nemu Widget Anniversary, umur anak, sampai ke berat badan. Widget ini sekarang udah ada di blog ini di sebelah kanan page.

Sekilas tentang 2015, gw gak bisa minta apa-apa lagi dari yang udah Allah kasih selama ini. Semuanya perfect. Alhamdulillah..

Sunday, 20 September 2015

Hari ini tepat 2 tahun yang lalu

Dua tahun lalu, hari Minggu, 21 September 2013, kami masih tinggal di Pondok Kopi, jauh dari orang tua yang tinggalnya di Depok dan Pasar Minggu.

Waktu itu mobil kebetulan lagi di Bengkel. Berhubung hamilnya Tania udah di minggu ke 37 atau 38, jadi dari beberapa hari sebelumnya kita sempet minjem mobil dari Depok. Karena rencananya Senin mobil sudah selesai dari bengkel, jadi sehari sebelumnya mobilnya dikembaliin lagi ke Depok. Jadi hari itu jadi hari pertama enggak ada mobil di rumah.

Tepat habis Magrib, tiba-tiba Tania keluar air ketuban. Masya Allah, ternyata pas di hari itu lah D-day-nya. Inget banget Habibie yang waktu itu masih 1 tahun lebih beberapa bulan langsung jalan keliling rumah karena ikut-ikutan panik. Si Mbak langsung beberes barang-barang yang mau dibawa ke Rumah Sakit. Dan gw langsung naik sepeda ke jalan raya untuk cari taksi. Taksi Bluebird atau Express yang penting yang lebih cepat. Enggak kepikiran lagi buat mesen via Apps. Alhamdulillah langsung dapat taksi yang supirnya kebetulan seorang bapak yang sudah punya cucu.

Dalam waktu kurang dari 10 menit, kita langsung jalan ke RS YPK Menteng. Perjalanan lewat jalan Casablanca juga alhamdulillah lancar sekali, mungkin karena Minggu malam juga. Enggak kebayang kalau kejadiannya beda beberapa jam di Senin pagi. Selain gw yang udah berangkat ke kantor, juga pastinya akan kena macet. Kita milih di RS YPK Menteng karena ada salah satu dosen Tania yang praktek disana. Jadi hanya masalah convenient sama siapanya.

Di perjalanan gw langsung telepon RS YPK Menteng, yang kebetulan diangkat sama Tante Tini, bidan yang juga tetangga sebelah rumah Bapak di Depok. Tante Tini ini jadi tetangga sebelah rumah gw dari mulai gw bayi, jadi kita udah berasa keluarga. Dokter langsung ditelpon untuk datang.

Sampai di RS YPK Menteng sekitar jam 7 PM, Tania langsung masuk ke ruang persalinan. Habibie nunggu di ruang tunggu sama Mbak. Practically kita cuman berempat aja waktu itu di RS. Orangtua dari Depok maupun dari Pasar Minggu baru sampai setengah jam kemudian.

Ternyata waktu Tania sampai di RS sudah pembukaan ke 3. Dan berjalan sangat cepat sekali, sampai akhirnya sebelum jam 8 PM bayi mungil lucu itu sudah muncul ke dunia, bahkan sebelum dokter kami datang. Total kurang dari 2 jam dari mulai 'alarm' peringatan muncul.

Bayi itu kita kasih nama Narendra Lukmanul Hakim. Narendra ini kepikiran hanya beberapa hari sebelum lahiran, selain karena Prime Ministernya India Narendra Modi yang berita bisa di-googling, juga karena harapan orangtuanya supaya kelak bayi ini bisa jadi pemimpin umat.

Malam setelah lahiran itu, semua keluarga pulang, Habibie tidur sama neneknya di Pasar Minggu. Mbaknya juga ikutan. Jadi cuman ada gw dan Tania aja di kamar RS yang agak besar di YPK. Waktu itu kita jadi berasa lagi piknik, karena jajanan di depan YPK yang enak-enak. Agak beda sama waktu lahiran Habibie di RS Permata Cibubur yang daerah sekitarnya sepi.

Setelah Naren dan Tania dibolehkan pulang, kami mulai hari-hari yang baru di Pondok Kopi berlima, karena sekarang udah ditambah Naren. Alhamdulillah enggak ada perubahan yang berarti di Habibie, gak cemburu, malah seneng punya adek baru. Sampai sekarang gw ngerasanya kalau Habibie bahkan belum sempet sadar kalau dulu pernah ada di masa jadi anak tunggal, cucu tunggal.

Walaupun berantemnya kakak adek gak terhitung jumlahnya, tapi alhamdulillah masing-masing saling menikmati punya saudara laki-laki. Semoga mereka berdua bisa jadi partner dalam segala hal kebaikan sampai besar nanti.

Selamat Ulang Tahun, anakku Naren, semoga Allah menyertai jalanmu kelak, menjadi anak yang sukses dunia akhirat. Aamiin.

Wednesday, 5 August 2015

Summer

Ini adalah Summer pertama gue dan keluarga di Middle East. Rasanya ternyata enggak seheboh yang dipikirkan: tempat kerja ada AC-nya, mobil ada AC-nya, rumah ada AC-nya. Tapi memang kalau lagi jalan kaki ke mesjid untuk Sholat, akan berasa banget panasnya. Dari mulai Subuh saja udaranya sudah panas. Panasnya berlanjut hingga Isya tanpa henti.

Makanya banyak teman-teman yang mengambil jatah vacation di bulan Juli-Agustus. Selain dapat Lebaran di Indonesia, juga bisa kabur dari panasnya Middle East. Di sini, hampir semua expatriates mendapatkan jatah libur selama 1-2 bulan per tahun. Jatah liburan ini meng-cover free tiket pulang-pergi ke negara asal. Tapi karena saya belum 1 tahun per bulan Juni kemarin, jadi saya belum eligible buat ambil vacation di Summer ini.

Kalau ternyata enggak pulang, di summer ini ada banyak acara yang bisa diikuti oleh anak-anak. Acara ini diadakan sebagai karya wisata --istilah trennya di anak-anak SD. Pemerintah sini sangat niat sekali dalam mengadakan acara Summer Camp. Walaupun free of charge, tapi banyak kegiatan yang bisa diikuti oleh anak-anak semua umur selama 1 bulan penuh.

Selain yang free yang diadakan oleh pemerintah, ada juga Summer School yang diadakan oleh beberapa sekolah swasta. Kasian ya anak lagi liburan tetep disuruh sekolah :fiuh

Overall, Summer ini jadi pengalaman yang menarik buat keluarga gue. Walaupun mungkin untuk tahun-tahun berikutnya gue juga akan berencana untuk kabur ke Indonesia di waktu Summer.

Sunday, 2 August 2015

Train Lego vs Train Beneran

Habibie dan Naren lagi main lego.

Habibie: Papa, aku habis bikin train lego.
Papa: Hebat banget, coba dong buat mobil.

Habibie: Enggak bisa Papa, kalo mobil dibuatnya di pabrik, enggak bisa di rumah.
Papa: Yaudah bikin train lagi aja yang banyak, supaya bisa panjang train-nya.

Habibie: Enggak bisa juga Papa, kalo bikin train harus di pabrik, enggak bisa di rumah.
Papa: Kan tadi Kak Bibi bikin train?

Habibie: Itu train lego, Papa. Kalo train bikinnya di pabrik.
....

Thursday, 23 July 2015

Pledoi Syifa

Beberapa hari terakhir ini, kasus Hafidz dan Syifa terangkat kembali. Dulu kasus ini pernah jadi trending topic bukan hanya di twitter saja, tapi juga di lingkungan RT gue, karena lokasi Hafidz dan Syifa membuang Almarhumah Ade Sara persis di dekat gerbang tol Bintara, dekat rumah gue di Pondok Kopi dulu.

Yang menarik dari kasus ini, Syifa membacakan pledoi yang entah kenapa membuat gue jadi teringat sesuatu: Hukum tidak akan pernah bisa menghapus kesalahanmu. Allah akan selalu memaafkan kesalahanmu ketika kamu bertobat. Masya Allah, baik sekali ya Allah. Karena kebaikan-Nya, kadang kita suka lupa, setelah tobat, kita lakukan kesalahan yang sama, lalu tobat lagi, dan lakukan kesalahan yang sama lagi.

Iterasi itu akan terus berjalan, hingga kita menemukan titik dimana kita menerima peringatan berupa balasan yang langsung bisa kita rasakan. Di titik itu kita baru sadar: Allah baik sekali ya. Gue kutip dari detik.com disini sebagai pengingat untuk gue sendiri karena susah untuk buka detik.com.

Majelis hakim yang Syifa muliakan

Syifa mohon kehadapan majelis hakim dengan segala rasa penyesalan dan tobat syifa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Kiranya Tuhan yang Maha Esa bisa memberikan ampunan kepada Syifa dan kehadapan majelis hakim Syifa sangat memohon agar dapat diberikan keputusan yang adil, arif dan bijaksana serta putusan yang seringan-ringannya kepada diri Syifa yang bisa Syifa jalani dengan penuh tanggungjawab untuk menebus kesalahan dan dosa yang telah Syifa perbuat dan kiranya putusan majelis hakim tersebut tetap memberikan kesempatan kepada Syifa untuk dapat melanjutkan pendidikam dikemudian hari.

Syifa berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, dan syifa akan menepati janji Syifa ini. Majelis hakim Syifa masih mempunyai harapan dan saat ini meneruskan pendidikan untuk mewujudkan semua cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tua Syifa keluarga Syifa dan orang-orang di sekitar Syifa.

Syifa masih ingin menepati janji Syifa kepada mama untuk membiayai beliau naik haji, Syifa juga akan menepati janji Syifa kepada saudari Syifa untuk menjadi orang yang sukses.

Syifa mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Ade Sara terutama kepada kedua orang tua Ade Sara Om Suroto dan Tante Elizabeth. Maafkan Syifa karena telah membuat duka yang teramat dalam di hati Om Suroto dan Tante Elizabeth.

Kepada teman-teman Syifa, kepada pihak sekolah atau kampus tempat Syifa belajar, Syifa juga memohon maaf yang sebesar-besarnya. Sekali lagi Syifa mohon khususnya kepada mama dan papa untuk senantiasa mendoakan Syifa anak mama dan papa agar kiranya Syifa tetap tegar dan sabar dalam menjalani ujian hidup yang berat ini.

Jujur terkadang timbul dari dalam diri Syifa rasa putus asa dan ingin segera mengakhiri hidup agar segera kembali ke pangkuan Ilahi Robbi. Namun Syifa sadar, hal itu bukanlah solusi bagi diri Syifa untuk belajar akan arti kehidupan ini.

Semoga mama dan papa tetap mendoakan Syifa agar bisa keluar dari cobaan dan ujian ini dengan selamat.
Amin ya robbal alamin.

Tuesday, 21 July 2015

Lebaran di Negeri Orang

Setelah coba nulis blog pakai English(DPK-versi Depok), yang akhirnya enggak jadi-jadi nulisnya, akhirnya pagi ini gue memutuskan mari kembali ke bahasa Indonesia.

Hari pertama kerja itu enaak banget. Walaupun pagi-pagi udah dapet laporan masalah system yang enggak jalan yang ternyata harus direstart. Sisanya, salam-salaman sama temen kantor. Di Bahrain juga ternyata ada salaman selepas Eid Fitri, walaupun enggak ada Minal Aidin wal Faidzin. Salamannya cuman ngucapin Eid Mubarak! sambil kadang disela pelukan.

Cerita Lebaran di Negeri orang kali ini dimulai waktu anak-anak bangun jam 5.45 AM di hari Sholat Ied. Padahal disini Sholat Ied mulai jam 5.15 AM. Hitungannya, karena Subuh jam 3.15 AM jadi kalau Sholat Ied-nya ngikutin kayak di Indonesia jam 7 AM, udah keburu siang dan panas.

Tapi KBRI Manama berbaik hati mengadakan Sholat Ied jam 7 AM. Yaudah, setelah mandi express kita langsung jalan ke KBRI jam 6.15 AM. Jalanan sepi banget. Memang beberapa hari terakhir menjelang Idul Fitri, jalanan di Bahrain mulai kosong kayak di Jakarta. Mungkin karena disini 80% diisi oleh expatriates, jadi pada Lebaran di negara masing-masing.

Keuntungan lain sholat di KBRI, ceramahnya dalam bahasa Indonesia dan setelah Sholat Ied kita langsung makan lontong khas Idul Fitri. Berhubung udah beberapa lama enggak makan rendang yang fresh, jadi apapun rasanya, tetap seneng banget bisa makan rendang. Gratis pula.

Habis itu kita ngobrol-ngobrol sama Warga Negara Indonesia yang ada disini. Berhubung Dubes Indonesia untuk Bahrain down-to-earth banget, jadi hampir di setiap kesempatan Pak Dubes-nya selalu nimbrung sama kita-kita.

Kami sekeluarga pulang sekitar jam 10, karena udah ngantuk. Kalau diterusin bisa ketiduran di KBRI. Begitu sampai di rumah, pas lagi parkir, ketemu sama tetangga gue yang Bahraini. Gue ngucapin Eid Mubarak bareng sama Tania, Habibie, dan Naren, eh si tetangga ngambil duit dari kantongnya, dan ngasih ke Habibie dan Naren. Ketahuan deh sekarang budaya angpau Idul Fitri dari mana. :grin

Kami sekeluarga diundang makan ke rumahnya. Namun karena beberapa hari setelah Lebaran kami masih sibuk (ternyata bukan cuman Lebaran di Jakarta yang sibuk :fiuh ), dan karena Tania niat untuk buatin kue, jadi sampai gue udah masuk kantor lagi kita belum sempet-sempet menuhin undangannya beliau.

Di hari ketiga, kami pergi ke Mesjid Al Fateh, mesjid yang terbesar yang ada di Bahrain. Jadi setiap Lebaran, Mesjid Al Fateh mengadakan Open House. Awalnya gue juga agak skeptis sama Open House di mesjid karena kebayang acaranya agak ngebosenin. Tapi berhubung sekalian lewat pulang dari pasar, jadi boleh lah dicobain.

Open House di Al Fateh ini ada Start Line dan Finish Line-nya. Di tengah-tengahnya banyak Check Point-nya. Masing-masing Check Point punya 'atraksi'-nya sendiri-sendiri. Menariknya, ada tour guide yang menjelaskan ke kita tentang sejarah Islam dan sejarah Al Fateh. Memang ternyata Open House ini ditujukan untuk non-Muslim yang mau tau lebih banyak tentang Islam. Walaupun begitu, cara tour guide ini menjelaskan membuat kami jadi tahu bagaimana menjelaskan tentang Islam ke orang non-Muslim. Ada banyak juga fakta tentang Islam yang ternyata kami belum tahu.

 Tour Guide lagi menjelaskan tentang sejarah Islam dan Al Fateh

Misalnya, di Check Point pertama, kita bebas nanya apa saja tentang Islam ke Scholars. Lalu di Check Point selanjutnya, kita bisa belajar bagaimana tata cara sholat dan alasannya mengapa demikian.

Ask Anything to the Scholars

Ada juga Check Point yang nulisin nama kita dalam Kaligrafi Arab. Nama Habibie yang paling Arab jadi favorit si penulis. Nama Tania yang ada kata 'Nur'-nya dihias di kata 'Nur'-nya seolah-olah itu adalah cahaya.

Check Point yang terakhir adalah Traditional Photography. Kita dipinjemin baju khas Arab, dan bebas untuk foto-foto. Berhubung Habibie sama Naren pada enggak mau pakai gamis, jadilah cuman bapak dan ibunya yang cobain.
Foto Keluarga yang gagal karena Anak-anak gak mau pakai Gamis

Sebelum pulang, di finish line kami dikasih 3 pertanyaan yang kalau bisa jawab dengan benar akan dapat bingkisan dari Al Fateh. Pertanyaannya agak susah, seperti misalnya: Berapa kali Jesus disebut dalam Al Quran. Tapi untungnya mbak-mbaknya baik jadi kita dikasih beberapa clue sehingga kita bisa jawab juga.

Lebaran kali ini juga seperti biasa diramaikan dengan acara kumpul-kumpul bareng temen-temen Warga Indonesia di sini. Sebagai sesama perantau, kami berbagi kebahagiaan di hari Lebaran meskipun jauh dari keluarga. :peluk

Overall, bagi keluarga kami yang baru pertama kali merayakan Lebaran di negeri orang, Lebaran kali ini jadi unforgottable moment.

Sunday, 31 May 2015

Commutative, Associative, and Distributive Law in Modulo

I still remember the old days when we learned about the Distributive, Associative, and Commutative Law in Addition, Subtraction, Multiplication, and Division in the Elementary School. If you already forget what the law stated, here I describe again:

Commutative:
Commutative Law means we can change the position of the numbers and still get the same result.
Working on:
Addition: 5 + 6 = 6 + 5
Multiplication: 5 x 6 = 6 x 5

Not Working On:
Subtraction: 5-6 != 6-5
Division: 5/6 != 6/5

Associative:
Associative Law means we can change the group of the numbers and still get the same result.
Working on:
Addition: (5 + 6) + 7 = 5 + (6 + 7)
Multiplication: (5 x 6) x 7 = 5 x (6 x 7)
Division: (5 / 6) / 7 != 5 / (6 / 7)

Not Working On:
Subtraction: (5 - 6) - 7 != 5 - (6 - 7)


Distributive:
Distributed Law means we can distribute the number into group of the numbers and still get the same result.
Example:
5 x (6 + 5) = 5 x 6 + 5 x 5

How about the Modulo? Is the same law can working in the Modulo?
Commutative:
Not working: 7 % 5 % 3 != 7 % 3 % 5

Associative:
Not working: (7 % 5) % 3 != 7 % (5 % 3)

Distributive:
Not working if the group come second: 7 % (5 + 3) != (7 % 5) + (7 % 3)
But working if the group come first    : (7 + 5) % 3 = (7 % 3) + (5 % 3)

Why I'm writing this? Is there any place of the world even concern about this?

There is a problem when we want to take a modulo function for a big number. For example:
8904835093485098039482094853094850249583023948093840298340988405345 % 4
We can count the modulo of the last digit first, and then the second digit multiply by 10, which can be separate into several groups, then we can add all of the sum.

And of course I believe there are many computational problems out there that can be solved by this law.